Jakarta, CNBC Indonesia - Harapan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mencetak terobosan dalam perang di Ukraina pada 2026 mulai dipertanyakan. Setelah lebih dari empat tahun invasi berlangsung, pasukan Moskow disebut kandas menembus garis pertahanan utama Ukraina dan belum bisa merebut sepenuhnya wilayah-wilayah sengketa di timur negara itu.
Mengutip kajian CNN International, Kamis (21/5/2026), alih-alih Rusia nan mencetak kemajuan, Ukraina justru dilaporkan sukses memperoleh untung teritorial bersih tahun ini sembari terus menimbulkan kerugian besar terhadap pasukan invasi Rusia.
Berbagai perkiraan Barat sekarang menempatkan korban di pihak Rusia pada level mendekati alias apalagi melampaui 30.000 hingga 40.000 tentara tewas dan luka setiap bulan. Tingkat korban sebesar itu dinilai sangat luar biasa mengingat nyaris tidak ada kemajuan wilayah nan sukses dicapai Rusia di medan perang.
Secara keseluruhan, jumlah korban Rusia sejak invasi dimulai sekarang diperkirakan telah melampaui satu juta orang dan disebut lebih sigap daripada keahlian Moskow untuk mengganti personel militernya.
Tekanan akibat perang mulai terlihat di dalam negeri Rusia sendiri. Dalam beberapa hari terakhir, apalagi seorang personil parlemen Rusia secara terbuka memperingatkan bahwa ekonomi negara itu mungkin tidak bisa menopang perang berkepanjangan tanpa batas.
Peringatan tersebut muncul lantaran shopping pertahanan Rusia terus melonjak dan distorsi ekonomi makin terasa.
Presiden Putin sendiri baru-baru ini mengatakan perang bisa saja "mendekati akhir", sebuah pernyataan nan dianggap mengejutkan dari pemimpin nan selama ini terus menggambarkan bentrok Ukraina sebagai perjuangan eksistensial nan memerlukan pengorbanan tanpa pemisah waktu.
Salah satu aspek utama nan disebut mengubah arah bentrok adalah perkembangan pesat teknologi drone Ukraina.
Jika sebelumnya Ukraina dipandang hanya sebagai negara nan memperkuat hidup dari serangan Rusia, sekarang negara itu mulai dilihat sebagai inovator militer nan mengubah wajah peperangan modern melalui penggunaan sistem otonom produksi massal.
Teknologi drone disebut membalik dugaan awal perang bahwa kelebihan jumlah personel Rusia otomatis bakal menentukan kemenangan.
Di garis depan, Ukraina sekarang disebut sukses membangun "zona pembunuhan" sepanjang 10 hingga 15 kilometer, area di mana pasukan Rusia susah bergerak maju tanpa terkena serangan drone secara terus-menerus.
Drone Ukraina juga sekarang rutin menyerang jauh ke dalam wilayah Rusia dengan menyasar pangkalan udara militer, pabrik, prasarana energi, penyimpanan amunisi hingga pusat logistik.
Kemampuan drone Ukraina mencapai Moskow apalagi dilaporkan ikut memengaruhi kesukaan Putin terhadap gencatan senjata sementara saat peringatan "Hari Kemenangan" di ibu kota Rusia, demi memastikan parade berjalan tanpa ancaman serangan drone mendadak.
Sebagai pengakuan tidak langsung bahwa Ukraina sekarang bisa menjangkau Moskow, instansi buletin pemerintah Rusia pekan ini melaporkan salah satu serangan drone Ukraina terbesar di dekat ibu kota.
Serangan-serangan tersebut memaksa Rusia menyebarkan ulang sistem pertahanan udara, memindahkan pesawat, memperkuat perlindungan prasarana serta mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk pertahanan domestik.
Secara militer, Ukraina dinilai sukses memperluas ruang tempur dan meningkatkan biaya perang bagi Moskow pada saat Rusia sendiri kesulitan memperoleh wilayah baru di medan perang.
Tujuan awal perang Putin pun disebut makin jauh dari kenyataan. Saat invasi dimulai, Putin diketahui mau menundukkan Ukraina sepenuhnya, melemahkan NATO, dan mengembalikan Rusia sebagai kekuatan dominan Eurasia.
Namun sekarang konsentrasi pertempuran hanya berkisar di wilayah Donbas di Ukraina timur, tanpa kesempatan nyata bagi pasukan Rusia merebut Kyiv nan menjadi sasaran awal invasi.
Aliansi NATO juga justru membesar setelah Finlandia dan Swedia resmi bergabung. Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa kali melontarkan kritik retoris terhadap NATO, shopping pertahanan negara-negara Eropa personil aliansi justru meningkat signifikan.
Dengan kerugian nan terus membengkak, Putin dinilai mempunyai sedikit perihal konkret untuk ditunjukkan dari perang tersebut, sementara tren di medan tempur disebut terus memburuk dari bulan ke bulan.
China Memantau
Situasi ini juga dipantau erat oleh Presiden China Xi Jinping, terutama mengenai rencana jangka panjang Beijing terhadap Taiwan.
Xi sebelumnya telah memerintahkan Tentara Pembebasan Rakyat China untuk siap melakukan operasi perebutan Taiwan pada 2027. Namun militer China hingga sekarang belum pernah betul-betul diuji dalam perang modern skala besar.
Perang Ukraina memperlihatkan sungguh sulitnya mencapai keruntuhan politik sigap terhadap musuh nan mempunyai tekad memperkuat kuat.
Dalam enam bulan ke depan, Xi disebut bakal terus mempelajari perkembangan perang Ukraina untuk menimbang untung dan akibat mengenai ambisi Beijing terhadap Taiwan.
Amerika Serikat dinilai mempunyai kesempatan memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat kehati-hatian China. Keunggulan Washington disebut terletak pada jaringan aliansi dan kemampuannya menghimpun komitmen negara-negara mitra untuk saling mempertahankan kepentingan bersama.
Karena itu, langkah paling strategis saat ini dinilai adalah memperkuat NATO dan support terhadap Ukraina guna menunjukkan kepada Putin bahwa Rusia tidak mempunyai kesempatan membalikkan keadaan, sekaligus memberi pesan kepada Xi bahwa langkah terhadap Taiwan bakal menghadapi respons terkoordinasi.
Sikap Trump
Di sisi lain, Presiden Donald Trump terus menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah mengakhiri perang melalui penyelesaian diplomatik.
Kesepakatan tenteram kemungkinan bakal mengharuskan Ukraina memberikan konsesi wilayah tertentu, disertai agunan keamanan untuk mencegah agresi Rusia di masa depan.
Namun diplomasi sejauh ini melangkah buntu. Ukraina menolak menyerahkan wilayah nan diyakini tetap dapat dipertahankan secara militer, sementara Rusia juga enggan menerima kesepakatan tanpa wilayah nan mereka rasa tetap bisa direbut.
Asumsi dasar diplomasi Trump selama ini adalah bahwa Ukraina sebagai pihak nan lebih mini kudu mengalah alias bakal kalah di medan perang. Namun dugaan tersebut sekarang disebut tidak lagi relevan.
Perubahan situasi di medan tempur justru membuka kesempatan baru bagi diplomasi. Ukraina sekarang lebih percaya diri terhadap keahlian pertahanannya sendiri dan tidak lagi sepenuhnya berjuntai pada janji perlindungan Washington.
Sebaliknya, Rusia menghadapi masa depan berupa korban perang nan terus meningkat dan tekanan ekonomi tanpa prospek terobosan militer berarti.
Perundingan resmi terakhir nan dimediasi AS berjalan pada Februari lampau dan sejak itu nyaris tidak ada perkembangan besar. Namun situasi terbaru disebut bisa mengubah arah negosiasi.
Bagi Trump, kesempatan terbaik untuk mengakhiri perang sekarang bukan lagi dengan menganggap Ukraina lemah, melainkan dengan menyadari meningkatnya kerentanan Rusia.
Tekanan tersebut dinilai bisa menjadi perangkat tawar baru untuk memaksa tercapainya penyelesaian nan dapat diterima Ukraina maupun Washington.
(luc/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·