
Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah Indonesia. (Foto: Okezone.com)
JAKARTA – Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah Indonesia. Mata duit Garuda mencatat pergerakan nan sangat naik turun sepanjang pekan ini di tengah tingginya ketidakpastian pasar global.
Setelah sempat terperosok ke titik terendah dalam sejarah, mata duit Garuda diprediksi tetap bakal menghadapi tekanan pada awal pekan depan meskipun terdapat potensi penguatan nan terbatas.
Berdasarkan info Bloomberg, rupiah sempat menyentuh level terlemahnya di posisi Rp17.424 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (5/5). Meski sempat menguat ke kisaran Rp17.333 pada Kamis (7/5), rupiah kembali ditutup melemah tipis di level Rp17.382 pada akhir perdagangan Jumat (8/5).
Pengamat pasar duit dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan volatilitas ini tetap bakal bersambung pada pembukaan pasar pekan depan.
"Sedangkan untuk perdagangan Senin besok, mata duit rupiah diperkirakan fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.380-Rp17.430," ungkap Ibrahim dalam risetnya.
Penyebab utama tekanan terhadap rupiah berasal dari kembali memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Harapan pasar terhadap gencatan senjata antara AS dan Iran nan sempat menguat sekarang meredup setelah pertempuran kembali pecah. Kondisi tersebut menakut-nakuti stabilitas pasokan daya dan pembukaan Selat Hormuz.
Selain aspek perang, perbedaan pandangan di internal bank sentral AS, The Fed, turut membingungkan pasar. Sementara Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, menilai suku kembang bakal stabil, Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, justru cemas terhadap inflasi nan tetap tinggi. Pasar sekarang menantikan info tenaga kerja AS periode April untuk menentukan arah kebijakan suku kembang ke depan.
54 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·