Vale Targetkan Blok Tanamalia Beroperasi 2029, Bakal Dibangun Ekosistem Baterai

Sedang Trending 49 menit yang lalu
MIND ID Resmi Jadi Pemegang Saham Terbesar PT Vale Indonesia Tbk Foto: Dok. Istimewa

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menargetkan pertambangan nikel baru perusahaan, Blok Tanamalia, bakal mulai beraksi sekitar tahun 2029 dan 2031. Perusahaan juga bakal membangun ekosistem baterai kendaraan listrik di proyek nan berada di konsesi tambang perusahaan Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Indonesia, Budiawansyah, mengatakan pengembangan proyek Blok Tanamalia saat ini tetap dalam proses kajian eksplorasi dan penelitian dan bakal diproses setelah proyek IGP Sorowako.

"Habis itu 2029-2031 itu Tanamalia. Harapan kita studi perincian eksplorasinya melangkah di Tanamalia sehingga kita bisa memastikan lagi kandungan sumber daya dan cadangannya nan ada, dari situ sebagai dasar seberapa lama ini life of mine-nya," jelasnya saat berbincang media massa, Kamis (13/8).

Budi mengatakan pembahasan Blok Tanamalia belum mencapai kreasi proyek, karena perusahaan tetap kudu memastikan jumlah persediaan nikel di pertambangan, sebelum akhirnya menentukan pengembangan industri baterai seperti proyek nan lain.

Vale Indonesia mempunyai 3 proyek smelter terintegrasi dalam Indonesia Growth Project (IGP), ialah IGP Pomalaa, IGP Morowali-Bahodopi, IGP Sorowako. Proyek terakhir diprediksi rampung pada tahun 2027. Sementara proyek Blok Tanamalia tetap dalam tahap front end loading (FEL) kedua hingga akhir tahun ini.

"Kita melakukan pendetailan sekarang nan kami bilang masuk kepada tahap FEL 2 untuk melakukan pendetailan sumber daya persediaan di situ. Sehingga betul-betul ada gambaran-gambaran detil kelak pada saat kita melakukan perincian desain," tutur Budi.

"2027 itu proses pendetailan eksplorasi ya, studi eksplorasi tahap 2 dan kelak ada pendetailan desain. Ya perkiraan forecast kita (beroperasi) 2029," imbuhnya.

Budi menegaskan bahwa perusahaan bakal tetap mendengar aspirasi masyarakat, karena wilayah Blok Tanamalia beririsan dengan rimba lindung dan perkebunan masyarakat. Semua kerangka akibat dipersiapkan untuk tahap FEL 3.

Power Plant PT Vale Indonesia (INCO) di Sorowako. Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

"Pada saat kelak FEL 3 kita sudah bicara perincian gimana kita bangunan tambang dengan aman, gimana beban lingkungan jika kita nambang sekian jangan sampai mencemari Danau Towuti," tegas Budi.

Untuk saat ini, perusahaan memastikan bakal ada ekosistem baterai terintegrasi di Blok Tanamalia, sama seperti Proyek Strategis Nasional (PSN) IGP. Meskipun keputusannya belum bisa dipastikan sebelum ada info persediaan nan lengkap.

"Tambang ini kan padat modal, padat akibat gitu ya, padat karya. Ya, jadi ini betul-betul kudu kita confirm berapa besar persediaan nan ada dan berapa besar sumber daya nan ada di situ," tandas Budi.

Tanamalia merupakan proyek pengembangan Vale Indonesia nan berdasarkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) serta PPKH No. 885 Tahun 2025 untuk aktivitas eksplorasi di area hutan.

Berlokasi di area Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas seluas 13.556,8 Ha di Kecamatan Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, eksplorasi telah dilakukan berjenjang sejak 1970. Ke depan, proyek direncanakan memasuki eksplorasi rinci (2025-2026), bangunan (2027-2028), dan penambangan paling sigap pada 2030, berjuntai pada kepantasan persediaan nikel.

Sebelumnya, Presiden Direktur Vale Indonesia, Bernardus Imanto, mengatakan saat ini kelanjutan proyek Blok Tanamalia tetap dieksplorasi. Sementara rencana investasi untuk proyek hilirisasi, berupa pembangunan smelter, bakal dilaksanakan terpisah.

"Kita masuk eksplorasi, kemudian kelak kan investasi untuk hilirisasinya kan terpisah gitu ya. Jadi kita konsentrasi dulu untuk bisa mengeksplorasi, untuk men-justify pengembangan tambang," ungkapnya saat ditemui di aktivitas Peluncuran dan Bedah Buku Bahlil Lahadalia, dikutip Sabtu (8/8).

Saat ditanya mengenai mitra di proyek tersebut, Bernardus tidak berkomentar banyak, termasuk apakah kemungkinannya adalah perusahaan otomotif asal Jerman, Volkswagen (VW) nan sebelumnya menyatakan kesukaan pada proyek Vale Indonesia.

Power Plant PT Vale Indonesia (INCO) di Sorowako. Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Dia hanya menyebut bahwa mitra tersebut bakal bekerja sama dengan perusahaan dalam pengembangan smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) nan mengolah nikel kadar rendah (limonit).

Sebelumnya, VW menyatakan minatnya untuk bekerja sama dengan Vale Indonesia dan sudah memandang langsung tambang di Sorowako, Sulawesi Selatan. Dari kunjungan itu, kepada Vale Indonesia, VW menyatakan minatnya untuk bekerja sama.

Ketertarikan VW bekerja sama dengan Vale juga diutarakan oleh Bahlil Lahadalia, nan saat itu menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM. Dia menyebutkan, VW melalui PowerCo bakal membangun ekosistem baterai mobil di Indonesia dengan bekerja sama berbareng sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan nasional.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan