Rupiah ditutup menguat 89 poin di level Rp18.022 pada Jumat (31/7).(Dok. Antara)
RUPIAH ditutup menguat 89 poin di level Rp18.022 per dolar AS pada perdagangan Jumat (31/7) sore. Performa ini membaik dibandingkan penutupan sebelumnya nan berada di posisi Rp18.114.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan untuk perdagangan Senin (3/8) depan, rupiah bakal bergerak naik turun namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp18.020 hingga Rp18.070. Sementara untuk sepekan ke depan, mata duit ini diperkirakan berada di kisaran Rp17.920-Rp18.300.
Dari sisi internal, penguatan rupiah didorong oleh putusan Mahkamah Konstitusi (MK) nan mewajibkan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipisahkan dari alokasi wajib 20% anggaran pendidikan. Kebijakan ini mulai bertindak paling lambat pada APBN 2028.
"Hal tersebut merupakan sebuah langkah nan dipandang memperkuat reformasi tata kelola mengenai program unggulan Presiden Prabowo," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (31/7).
Selain itu, sentimen positif datang dari proyeksi inflasi Juli 2026 nan diperkirakan melandai ke level 3,06% secara tahunan (yoy), turun dari 3,34% pada bulan sebelumnya. Secara bulanan, inflasi diprediksi hanya sebesar 0,03%. Penurunan ini dipicu oleh deflasi pada komponen nilai pangan bergolak (volatile food) sebesar 1,12% seiring puncak musim panen cabe merah dan bawang bombai.
Meski demikian, para ahli ekonomi mengingatkan adanya akibat inflasi pada paruh kedua tahun ini akibat pelemahan nilai tukar, potensi kejadian El Nino, serta peningkatan permintaan pangan nan tetap membayangi.
Di pasar global, indeks dolar AS terpantau melemah. Harga minyak mentah juga condong turun meski terdapat ketegangan di Timur Tengah.
Fokus pasar tertuju pada Selat Hormuz nan sempat terblokade sejak pecahnya perang AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu, namun sekarang mulai menunjukkan peningkatan arus lampau lintas pengiriman minyak.
Sementara itu, Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku kembang acuan. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen pada sasaran inflasi 2%, meskipun terdapat perbedaan pendapat di internal kreator kebijakan nan mendesak kenaikan suku kembang lebih lanjut lantaran inflasi nan dinilai tetap susah turun (sticky).
Data inti PCE Juni nan lebih rendah dari perkiraan sempat meredakan kekhawatiran pasar. Namun, dengan posisi indeks nan tetap di atas target, pasar tetap memperhitungkan kemungkinan satu kali kenaikan suku kembang The Fed pada akhir tahun ini. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·