Rupiah Melemah Dekati Rp17.000 per Dolar AS Efek Perang AS-Iran hingga Fitch Ratings

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Anggie Ariesta , Jurnalis-Jum'at, 06 Maret 2026 |15:56 WIB

Rupiah Melemah Dekati Rp17.000 per Dolar AS Efek Perang AS-Iran hingga Fitch Ratings

Rupiah Melemah Dekati Rp17.000 per Dolar AS Efek Perang AS-Iran hingga Fitch Ratings (Foto: Okezone)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (6/3/2026), turun 20 poin alias sekitar 0,12 persen ke level Rp16.925 per dolar AS. Rupiah melemah dekati level Rp17.000.

Pengamat pasar duit Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan Rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal ialah bentrok di Timur Tengah memasuki hari ketujuh pada hari Jumat tanpa tanda-tanda mereda nan jelas, membikin pasar finansial dunia tetap waspada.

"Pertempuran antara AS, Israel, dan Iran telah meningkat selama seminggu terakhir, dengan serangan rudal dan serangan jawaban menyebar di seluruh wilayah dan meningkatkan kekhawatiran bakal gangguan pasokan daya global," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dia mau berkedudukan dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya setelah perang berakhir, pernyataan nan menggarisbawahi meningkatnya ketidakpastian tentang masa depan politik area tersebut.

Harga minyak melanjutkan kenaikan kuatnya semalam lantaran bentrok menakut-nakuti prasarana daya utama dan jalur pelayaran di Teluk. Lonjakan nilai minyak mentah telah memicu kekhawatiran tentang gelombang inflasi dunia nan baru.

Hal ini telah mempersulit prospek bagi bank sentral global, termasuk Federal Reserve AS. Harga minyak nan lebih tinggi condong memicu inflasi dan dapat membikin para kreator kebijakan lebih berhati-hati dalam memangkas suku kembang dalam waktu dekat.

Investor sekarang mengalihkan perhatian mereka ke laporan info pekerjaan non-pertanian AS bulan Februari nan bakal dirilis Jumat nanti, nan dapat memberikan sinyal baru tentang kekuatan pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter.

Angka nan lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve mempunyai ruang untuk menunda pemotongan suku bunga.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com