Ilustrasi(Antara)
MATA duit rupiah ditutup melemah 30 poin, setelah sempat menguat 20 poin, ke level Rp18.022 per dolar AS pada perdagangan sore ini, Rabu (21/10), dari penutupan sebelumnya di level Rp17.992.
Sedangkan untuk perdagangan besok, pengamat mata duit dan komoditas Ibrahim Assuaibimata memproyeksikan mata duit rupiah naik turun namun ditutup melemah di rentang Rp18.020 - Rp18.070 per dolar AS.
"Sedangkan perdagangan dalam minggu ini di rentang Rp17.850 - Rp18.200 per dolar AS," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (21/10).
Pelemahan rupiah terjadi di tengah keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%. Sejalan dengan itu, suku kembang Deposit Facility sebesar 4,75% dan suku kembang Lending Facility sebesar 6,50%.
Dengan demikian, BI telah menahan suku kembang dalam tiga pertemuan beruntun. Bank sentral sebelumnya juga mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% pada RDG Agustus 2026. Sebelumnya, pemerintah melalui Kemenkeu optimistis defisit APBN 2026 bakal tetap di bawah pemisah 3% terhadap PDB meski terdapat akibat kenaikan imbal hasil alias yield SBN hingga nilai minyak dunia. Otoritas fiskal setidaknya memproyeksikan level defisit tetap berada sesuai outlook pertengahan tahun, ialah 2,85% terhadap PDB.
"Deviasi kedua dugaan dasar ekonomi makro ini dapat berefek pada pergeseran postur APBN, baik pendapatan, shopping serta defisit. Untuk tingkat imbal hasil SBN, salah satu perihal nan diwaspadai adalah pengaruh sentimen negatif penilaian terbaru MSCI," ujar Ibrahim.
Apabila merujuk pada outlook APBN pertengahan 2026, pemerintah memproyeksikan defisit fiskal melebar dari sasaran Rp689,1 triliun (2,68% PDB) ke Rp734,3 triliun (2,85% PDB). Proyeksi defisit ini turut dirancang dengan peningkatan imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun dari sasaran APBN 6,9% ke kisaran sampai 7,1%.
"Kemenkeu optimistis defisit APBN tetap bakal sesuai dengan outlook 2,85% lantaran sejumlah dugaan makro juga tetap dalam sasaran. Contohnya, pertumbuhan ekonomi tetap pada kisaran 5,4% sampai 5,6% serta inflasi 2,5±1% sebagaimana juga nan ditargetkan Bank Indonesia (BI)," tutupnya. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·