Karyawan memperlihatkan duit dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026).(ANTARA/Muhammad Iqbal)
NILAI tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan pagi ini, Jumat (26/6). Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut pelehaman ini sesuai prediksi. Ia pun memperkirakan nilai tukar rupiah bakal menyentuh Rp18.000 per dolar AS di akhir pekan ini.
“Pagi ini sesuai prediksi rupiah melemah. Kelemahannya cukup tajam di 47 poin. Saat ini diperdagangkan di Rp17.990 (per dolar AS). Kemungkinan besar di akhir pekan ini rupiah bakal menyentuh level Rp18.000,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (26/6).
Ia mengungkapkan sejumlah aspek eksternal maupun internal dari pelemahn tersebut. Dari sisi eksternal, beberapa info cukup menguatkan indeks dolar. Salah satunya adalah info di Amerika Serikat sendiri.
“Tadi malam banyak sekali info nan dirilis di Amerika nan sangat menentukan terhadap perubahan nilai indeks dolar,” ungkapnya.
Pertama adalah tentang produk domestik bruto (PDB) AS kuartal pertama nan cukup bagus. Kemudian info pengangguran nan menurun; indeks nilai pengeluaran konsumsi pribadi inti cukup bagus. “Ini nan membikin dolar menguat cukup tajam,” ujar Ibrahim.
“Karena sasaran (indeks) dolar sendiri kemungkinan besar di 102.600. Nah sehingga wajar jika seandainya dolar ini menguat, lantaran spekulasi tentang Bank Sentral Amerika nan bakal kembali meningkatkan suku kembang di tahun 2026 dua kali. Bulan Juli alias September. Kemudian di bulan Desember,” paparnya.
Dari sisi internal alias domestik, Ibrahim memandang ada beberapa info nan mungkin bakal dicermati oleh pasar. Terutama tentang inflasi, persediaan devisa, info PMI manufaktur, dan neraca perdagangan.
“Inflasi kemungkinan besar bakal naik lantaran dengan kenaikan nilai bahan bakar non-subsidi, ini membikin harga-harga bahan pokok di pasaran melonjak lantaran transportasi juga naik. Inflasi di bulan Juni kemungkinan besar bakal lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi di bulan sebelumnya,” katanya.
Kemudian persediaan devisa Indonesia kemungkinan besar bakal menyusut. Pasalnya, kata Ibrahim Bank Indonesia begitu aktif dalam melakukan intervensi baik di pasar internasional, pasar domestik, kemudian obligasi dan surat utang negara, apalagi meningkatkan suku kembang 100 pedoman poin.
Kemudian info PMI manufaktur kemungkinan besar bakal terjadi kontraksi. “Sebelumnya memang di level 50. Tetapi kita lihat pada perusahaan-perusahaan manufaktur, prasarana mengalami permasalahan, kebangkrutan, terjadi PHK, kemungkinan besar info manufaktur PMI bakal kontraksi lagi di bawah 50,” ujarnya.
Kemudian neraca perdagangan kemungkinan besar surplus tetapi menyusut tajam. Pasalnya, ujar Ibrahim, neraca perdagangan di Tiongkok sendiri sedang mengalami persoalan nan bakal membikin neraca perdagangan Indonesia juga bermasalah.
“Akan terjadi surplus tapi surplusnya bakal menyempit sehingga pasar tetap bakal terus memandang neraca perdagangan lantaran berakibat terhadap neraca melangkah dan defisit anggaran,” jelasnya.
“Pagu defisit anggaran di APBN itu 2,68%. Saat ini sudah di atas 2,8%. Bisa saja ini bakal mendekat level 2,9% dan menuju level 3%. Ini nan kemungkinan sedang diamati oleh pelaku pasar, baik Bank Dunia, IMF maupun pemerintah internasional,” pungkasnya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·