Sekelompok massa menyerang rumah sakit dan membakar tenda isolasi di Kota Rwampara, Kongo, Jumat (22/5/2026). (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Insiden ini terjadi setelah setelah family dan kawan seorang pemuda nan diduga meninggal akibat virus tersebut dilarang membawa jenazahnya untuk dimakamkan. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Dilansir Reuters, Polisi sempat melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan massa nan mengamuk di Rumah Sakit Umum Rwampara. Namun, upaya tersebut gagal, dan massa membakar dua tenda berisi delapan tempat tidur sebelum bala support tentara dan polisi tiba untuk mengendalikan situasi. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Akibatnya, tenda-tenda tersebut lenyap terbakar berbareng satu jenazah nan rencananya bakal dimakamkan pada hari itu. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Enam pasien nan sebelumnya menjalani perawatan di tenda dilaporkan melarikan diri selama kekacauan tersebut. Namun, organisasi medis Alima kemudian mengatakan bahwa seluruh pasien telah ditemukan dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Politisi setempat, Luc Malembe Malembe, mengatakan bahwa banyak orang tetap tidak percaya bahwa virus Ebola, nan sejauh ini telah menewaskan lebih dari 130 orang di wilayah timur DRC, betul-betul ada. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
Jenazah korban Ebola tetap dapat menularkan jangkitan dengan mudah. Oleh karena itu, otoritas DRC dan lembaga kesehatan internasional menegaskan bahwa pemakaman kudu dilakukan oleh tim unik nan mengenakan perangkat pelindung diri. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
49 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·