
ESG Risk Rating merupakan sistem penilaian untuk mengukur tingkat paparan perusahaan terhadap akibat lingkungan, sosial. (Foto: Okezone.com/Freepik)
JAKARTA – Environmental, Social, and Governance (ESG) Risk Rating kian menjadi parameter krusial dalam menilai keahlian perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Di Indonesia, penerapan penilaian ini terus meningkat seiring tuntutan penanammodal global, regulator, dan pemangku kepentingan terhadap praktik upaya nan berkepanjangan dan transparan.
Pemerhati ESG Lastyo Lukito menjelaskan, ESG Risk Rating merupakan sistem penilaian untuk mengukur tingkat paparan perusahaan terhadap akibat lingkungan, sosial, dan tata kelola, sekaligus menilai keahlian perusahaan dalam mengelola akibat tersebut.
“Tujuannya untuk pelaporan dan perbaikan,” ujar Lastyo, Rabu (28/1/2026).
Kendati begitu, ESG bukan hanya tentang kepatuhan, tetapi juga tentang menciptakan nilai jangka panjang.
“Perusahaan nan bisa mengelola akibat ESG dengan baik bakal lebih tahan terhadap disrupsi industri, krisis lingkungan, dan perubahan sosial nan dinamis,” ujarnya.
Ketua Umum Asosiasi Ahli Emisi Karbon Indonesia (ACEXI) itu juga mengatakan bahwa Indonesia saat ini tengah mengalami pergeseran menuju praktik upaya nan lebih transparan dan berkelanjutan.
“Skor ESG Risk Rating tak hanya mempengaruhi akses terhadap pendanaan internasional, tetapi juga membangun reputasi perusahaan dalam jangka panjang,” katanya.
“Terutama perusahaan di sektor energi, manufaktur, dan keuangan,” sambungnya.
Lastyo memberi contoh bahwa Pertamina merupakan salah satu perusahaan di sektor daya nan dinilai mempunyai ESG Risk Rating nan baik. Sebagaimana diketahui, Pertamina per 31 Desember 2025 menunjukkan peningkatan signifikan dalam ranking ESG.
Pertamina meraih ranking tertinggi di subindustri migas terintegrasi bumi menurut Sustainalytics (skor 23,1, Medium Risk) dan MSCI (BBB, naik dari BB), serta subentitasnya seperti Pertamina Patra Niaga meraih rating A untuk emisi karbon.
“Ini menandakan bahwa Pertamina mempunyai komitmen kuat terhadap keberlanjutan dan transisi daya di tengah tantangan industri,” kata Lastyo.
Hal nyaris senada juga disampaikan Penasihat Senior Social Investment Indonesia Sonny Sukada. Ia mengatakan bahwa ESG mulanya muncul sekitar 2004–2005 sebagai sebuah kerangka penilaian nan dibuat oleh penanammodal untuk mengukur keahlian keberlanjutan suatu perusahaan dalam konteks finansial alias keuangan.
“Pelaporan keberlanjutan merupakan bagian krusial dari finansial berkelanjutan,” tutur Sonny.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·