Ramai Negara Berburu Pupuk Urea ke RI, Australia Datangi Kementan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Australia disebut tengah menjajaki kerja sama pertanian, terutama pupuk, dengan Indonesia. Dikatakan, Australia berkeinginan mengimpor pupuk Urea dari Indonesia. Hal itu terungkap dari hasil pertemuan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan) pada Rabu (15/4/2026).

Sudaryono mengatakan, kondisi geopolitik global, termasuk akibat penutupan Selat Hormuz, telah memengaruhi pengedaran pupuk dunia. Bukan tanpa alasan. Sekitar sepertiga pasokan pupuk dunia melewati jalur tersebut, sehingga gangguan nan terjadi berakibat signifikan terhadap kesiapan pupuk internasional.

"Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara memerlukan urea. Indonesia mempunyai kelebihan lantaran bisa memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga kita tidak berjuntai pada impor untuk komoditas tersebut," kata Sudaryono dalam keterangannya, dikutip Kamis (16/4/2026).

Disebutkan, saat ini kapabilitas produksi pupuk urea nasional nan dikelola PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai sekitar 9,36 juta ton hingga 9,4 juta ton per tahun. Pada tahun 2026, ditargetkan produksi urea mencapai 7,8 juta ton, dengan kebutuhan subsidi 6,3 juta ton dan terdapat potensi ekspor 1,5 juta ton.

Surplus inilah nan kemudian jadi pertimbangan membuka kesempatan ekspor ke beragam negara, termasuk Australia.

Meski begitu, Sudaryono menegaskan pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.

"Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor," tegas dia.

Hubungan Resiprokal

Di sisi lain, Sudaryono menambahkan, minat terhadap urea Indonesia tidak hanya datang dari Australia. Tapi juga dari sejumlah negara lain seperti India, Filipina, dan Brasil. Meski begitu, pemerintah tetap berhati-hati agar tidak menjanjikan pasokan nan melampaui keahlian produksi nasional.

Sudaryono juga menjelaskan, hubungan perdagangan pupuk antara Indonesia dan Australia berkarakter timbal balik. Indonesia, di satu sisi, mengekspor urea, namun di sisi lain juga mengimpor bahan baku seperti fosfat, termasuk jenis DAP (Diammonium Phosphate), dari Australia.

"Ini hubungan nan resiprokal. Kita saling membutuhkan, nan krusial adalah gimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan jual beli nan sehat," ujarnya.

Lebih lanjut, dia memastikan kesiapan pupuk dalam negeri, khususnya pupuk subsidi, dalam kondisi aman. Tingginya serapan pupuk oleh petani disebut sebagai parameter meningkatnya aktivitas tanam di beragam daerah.

"Kalau ada petani nan tidak menemukan pupuk di kios, itu lebih kepada pengedaran nan sedang melangkah cepat. Dalam 1-2 hari biasanya sudah tersedia kembali. Artinya pupuk ada dan cukup," jelas Sudaryono.

Ke depan, pemerintah juga berencana melakukan peremajaan pabrik-pabrik pupuk nan sudah tua untuk meningkatkan efisiensi dan kapabilitas produksi nasional, sekaligus memaksimalkan kesempatan ekspor di tengah tingginya permintaan global.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia tidak hanya bisa menjaga ketahanan pupuk nasional, tetapi juga berpotensi memperkuat posisinya sebagai pemasok pupuk di pasar internasional.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian pada Rabu (15/4/2026). (Dok. Humas Kementan)Foto: Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian pada Rabu (15/4/2026). (Dok. Humas Kementan)
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian pada Rabu (15/4/2026). (Dok. Humas Kementan)

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News