Rahasia Kekebalan Kelelawar Mulai Terkuak: Punya Dua Set Gen Antibodi Unik

Sedang Trending 49 menit yang lalu
 Punya Dua Set Gen Antibodi Unik Ilustrasi(Unsplash)

PARA intelektual sejak lama dibuat penasaran oleh satu pertanyaan besar mengenai kelelawar: gimana mamalia terbang ini bisa membawa beragam virus pemicu penyakit parah tanpa membikin diri mereka sendiri sakit serius?

Jawabannya sekarang mulai terkuak. Para peneliti dari Tulane University, bekerja sama dengan Stanford University serta Centers for Disease Control and Prevention (CDC), menemukan lebih dari 500 jenis kelelawar vesper mempunyai dua set gen antibodi nan terpisah. Penataan sistem kekebalan seperti ini belum pernah ditemukan pada mamalia mana pun sebelumnya.

Dalam studi nan dipublikasikan di jurnal Science Advances, family kelelawar terbesar di bumi ini terbukti membawa dua salinan gen berbeda nan berkedudukan dalam memproduksi antibodi, protein unik penanda dan pembasmi infeksi. Sementara itu, seluruh jenis mamalia lain nan pernah diteliti hanya mempunyai satu set gen serupa.

"Kami belum pernah memandang nan seperti ini pada mamalia sebelumnya," kata Hannah Frank, guru besar asosiasi ekologi dan biologi evolusioner di Tulane University School of Science and Engineering nan merupakan penulis korespondensi studi tersebut. "Ini sepenuhnya mengubah pemahaman kita tentang gimana sistem kekebalan mamalia dapat terorganisasi dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru nan menarik tentang kenapa kelelawar sangat sukses secara perkembangan dan gimana mereka merespons virus."

Sistem Antibodi Unik pada Kelelawar Vesper

Penemuan ini diidentifikasi pada kelelawar vesper, golongan nan mencakup lebih dari 500 jenis dan tersebar di setiap benua selain Antartika. Antibodi pada dasarnya berbentuk seperti huruf Y nan tersusun dari dua rantai protein berat dan dua rantai protein ringan. Pada manusia dan mamalia lain, rantai berat selalu diproduksi menggunakan satu set gen tunggal.

Namun, kelelawar vesper berbeda lantaran mempunyai dua sistem gen rantai berat nan terpisah. Keberadaan dua sistem ini berpotensi memberikan mereka langkah tambahan untuk menghasilkan ragam antibodi nan jauh lebih beragam.

Selama ini, riset keimunan kelelawar lebih banyak berfokus pada sistem kekebalan bawaan (innate immune system). Frank menilai temuan baru ini membuktikan bahwa sistem kekebalan adaptif, bagian nan bekerja memproduksi antibodi, juga sangat layak untuk dipelajari lebih dalam.

"Kami pikir penemuan ini merupakan bagian krusial dari teka-teki tersebut," ujar Frank. "Ini tidak sepenuhnya menjelaskan kenapa kelelawar menjadi reservoir viral nan begitu efektif, tetapi ini mengungkapkan tingkat ragam kekebalan nan tidak kita ketahui sebelumnya dan memberi kita arah nan sama sekali baru untuk dijelajahi."

Pentingnya Menguak Imunitas Kelelawar

Di alam liar, kelelawar memegang peran ekologis nan sangat vital sebagai penyerbuk tanaman, penyebar benih, hingga pengendali (benih)penyakit alami. Di sisi lain, mereka juga menjadi inang alami bagi banyak jenis virus.

Memahami langkah kelelawar hidup berdampingan dengan virus-virus tersebut tanpa menjadi sakit dapat membantu para peneliti memahami respons kekebalan pada jenis lain, sekaligus meningkatkan strategi untuk menekan akibat penularan penyakit ke manusia (disease spillover).

"Kita telah mempelajari sangat banyak perihal tentang kekebalan dengan mempelajari manusia dan tikus laboratorium," tutur Frank. "Tetapi bumi alami jauh lebih beragam dari itu. Setiap kali kita mempelajari jenis nan telah berevolusi secara berbeda, kita mempunyai kesempatan untuk menemukan sesuatu nan sama sekali baru." (Science Daily/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia