PT Timah Bidik Produksi Timah Hingga 30.000 Ton di 2026

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Timah Tbk (TINS) memproyeksikan kenaikan volume produksi bijih timah menjadi 30.000 ton pada tahun 2026. Target tersebut meningkat dibandingkan realisasi produksi tahun sebelumnya sebesar 17.515 ton.

Direktur Utama TINS Restu Widiyantoro menjelaskan bahwa peningkatan sasaran produksi tersebut didasari oleh optimisme perusahaan terhadap perbaikan tata kelola serta penguatan kemitraan di sektor pertambangan. Dia menyebutkan, perusahaan sekarang konsentrasi pada peningkatan keahlian menambang secara berdikari guna mengurangi ketergantungan kepada pihak lain.

"Jadi kami laporkan 18.000 nan tercapai sasaran dan tahun ini (2025), tahun 2026 menjadi 30.000 ton. Dan untuk pencapaian untung tahun ini 2025 itu Rp1,2 triliun unaudited. Jadi itu nan kami laporkan," ujarnya dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, dikutip Kamis (16/4/2026).

Selain mengejar sasaran produksi bijih, TINS juga tengah melakukan revitalisasi operasional pada anak usahanya di sektor hilirisasi. Perusahaan berkomitmen untuk meningkatkan efisiensi proses upaya agar kontribusi untung dari produk hilir timah dapat tumbuh lebih maksimal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Revitalisasi dan langkah pencapaian sasaran dan operasinya ditingkatkan mudah-mudahan tahun ini sudah bisa mencapai untung nan signifikan nan selama bertahun-tahun tidak mencapai sasaran nan ditargetkan," katanya.

Di sisi lain, perusahaan mendapatkan penugasan baru untuk mengelola Mineral Tanah Jarang (MTJ) alias Rare Earth Element (REE) sebagai bagian dari diversifikasi upaya hulu ke hilir. Pemerintah telah menjadwalkan peletakan batu pertama alias groundbreaking akomodasi riset dan produksi mineral strategis tersebut pada 20 Mei 2026 mendatang.

"Jadi ada dua titik berat ialah sebelumnya kami mengelola timah saja dari hulu sampai ke hilir sampai dengan ekspor, tetapi saat ini kami sudah mendapat tugas dan perintah untuk segera mengelola mineral ikutan, Mineral Tanah Jarang (MTJ) alias Rare Earth Element (REE)," tuturnya.

Restu menambahkan bahwa pembenahan tata kelola juga mencakup pembentukan unit stasiun pengumpul nan dikelola secara internal oleh perusahaan. Strategi tersebut dilakukan untuk memastikan pengumpulan bijih timah dari mitra maupun masyarakat dilakukan sesuai dengan ketentuan abdi negara penegak norma (APH) dan izin nan berlaku.

"Kami menuju pelan tapi pasti, istilah kami untuk menuju bahwa PT Timah kudu bisa dan bisa untuk menambang sendiri, tidak tergantung kepada pihak lain. Pihak lain kelak menjadi mitra nan posisi dan kerja samanya berimbang alias setara," tandasnya.

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News