
SMAN 1 Pontianak. (Foto: Instagram)
PROFIL SMAN 1 Pontianak menarik diulas. Sebab, sekolah ini baru saja jadi sorotan dan buka bunyi soal kontroversi pandai jeli 4 pilar MPR Kalbar.
Ya, arena Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) melalui Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI nan semestinya menjadi sarana edukasi kebangsaan justru menjadi sorotan publik. Hal ini terjadi setelah muncul kontroversi penilaian juri dalam babak tanya jawab.

1. Kontroversi Cerdas Cermat 4 Pilar MPR Kalbar
Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI sebenarnya merupakan kejuaraan tahunan. Ajang ini diikuti pelajar SMA sederajat dari beragam wilayah di Indonesia itu bermaksud meningkatkan pemahaman peserta terhadap nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Namun dalam tayangan siaran langsung kanal YouTube MPRGOID pada 9 Mei 2026, sebuah momen penilaian dianggap tidak konsisten. Hal ini pun memicu reaksi luas dari masyarakat.
Insiden bermulai ketika pembawa aktivitas memberikan pertanyaan mengenai sistem pemilihan personil Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjadi tim pertama nan menekan bel dan menjawab bahwa personil BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD serta diresmikan oleh Presiden.
Namun, jawaban tersebut dinyatakan salah oleh juri Dyastasita Widya Budi. Alhasil, Regu C dari SMAN 1 Pontianak mendapat pengurangan nilai minus lima.
Kesempatan kemudian beranjak kepada Regu B dari SMAN 1 Sambas. Menariknya, tim ini memberikan jawaban nan dinilai publik nyaris identik dengan jawaban sebelumnya. Kali ini pun, majelis juri justru memberikan nilai penuh lantaran dianggap benar.
Perbedaan penilaian tersebut langsung diprotes oleh peserta dari SMAN 1 Pontianak. Mereka menilai jawaban nan disampaikan mempunyai isi nan sama dengan Regu B.
Menanggapi protes itu, Dyastasita menjelaskan bahwa penyebutan “Dewan Perwakilan Daerah” pada jawaban Regu C tidak terdengar jelas oleh majelis juri. Pernyataan itu kemudian diperkuat oleh juri lain, Indri Wahyuni, nan menekankan pentingnya artikulasi dalam perlombaan.
Menurut Indri, peserta sejak awal telah diingatkan agar menyampaikan jawaban dengan pelafalan nan jelas sehingga dapat didengar dan dinilai secara tepat oleh majelis juri. Meski demikian, potongan video kejadian tersebut dengan sigap menyebar di media sosial dan memicu kritik dari warganet. Banyak nan mempertanyakan konsistensi penilaian juri lantaran menilai kedua jawaban terdengar sama.
Sebagian publik juga menilai argumen artikulasi kurang cukup untuk membedakan keputusan penilaian. Apalagi, ini merupakan kejuaraan tingkat nasional nan menuntut objektivitas tinggi.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·