Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan sejumlah pemberontakan nan terjadi di masa lampau kerap diintervensi oleh pihak asing. Hal itu disampaikan Prabowo saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna (SKP) di Istana Negara, Rabu (21/10) sore.
"Bangsa-bangsa besar selalu intervensi, selalu usik kita, selalu menghasut perpecahan, selalu membiayai pemberontakan, kerusuhan, adu domba," kata Prabowo di hadapan anggota Kabinet Merah Putih.
Prabowo lantas menyebut beberapa aktivitas alias pemberontakan nan menimbulkan kerusuhan alias politik pecah belah (devide et impera), seperti Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Republik Maluku Selatan (RMS), Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)/Perjuangan Semesta (Permesta), hingga Pemberontakan 1948.
Meskipun demikian, Prabowo menyatakan karakter bangsa Indonesia tetap kuat dan mempunyai ketahanan nasional. Pada tahun 1997 hingga 1998, kata dia, banyak pihak nan meramalkan Indonesia bakal pecah dalam waktu nan tidak lama. Akan tetapi, ramalan tersebut nyatanya keliru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rakyat kita semakin pandai, pemimpin-pemimpin kita di ujungnya bakal menjaga persatuan," tambahnya.
Dengan kondisi kombinasi tangan asing nan menurut Prabowo begitu kuat, dia pada akhirnya menjalankan politik persatuan.
"Marilah kita tanamkan perbedaan-perbedaan kita, marilah kita berasosiasi untuk kepentingan nan besar, kepentingan rakyat indonesia hidup sejahtera, rakyat," serunya.
Perihal tudingan pihak asing di kembali kerusuhan alias pemberontakan bukan kali ini saja disampaikan oleh Prabowo.
Prabowo, begitu juga orang-orang nan mendukungnya, kerap menuding asing melakukan intervensi hingga mendanai setiap peristiwa demonstrasi dalam periode dua tahun kepemimpinan ini.
(ryn)
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·