Populer: Stok Masker Ludes Akibat Erupsi; BPS Bantah Desil Ubah Kemiskinan

Sedang Trending 46 menit yang lalu
Stok masker di rak penjualan toko Helath Care, Aeon Mall Tanjung Barat, Jakarta, Senin (7/9/2026). Foto: Nur Pangesti/kumparan

Lonjakan permintaan masker akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu buletin terkenal kumparanBISNIS sepanjang Selasa (8/9).

Selain itu, terdapat penjelasan BPS mengenai perubahan desil kesejahteraan nan tidak memengaruhi nomor kemiskinan. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman buletin terkenal tersebut:

Erupsi Anak Krakatau Picu Lonjakan Permintaan, Stok Masker Langsung Ludes

Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu lonjakan permintaan masker jenis KN95 secara mendadak hingga 80 persen di sentra perdagangan Pasar Pramuka, Jakarta Timur.

Kenaikan drastis nan terjadi pada periode Minggu hingga Senin tersebut menyebabkan persediaan di tingkat retail maupun pemasok lenyap total. Volume penjualan harian di beberapa toko dilaporkan melonjak tajam dari rata-rata 10 boks menjadi 100 boks per hari akibat peningkatan kesadaran perlindungan kesehatan masyarakat.

Meskipun pasokan tersendat dan permintaan pasar sangat tinggi, para pedagang berkomitmen menjaga stabilitas nilai dengan hanya menerapkan penyesuaian nilai minor sekitar 10 persen alias berkisar Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per boks guna menghindari spekulasi pasar.

Di pasar fisik, nilai masker KN95 dibanderol bervariasi mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 110.000 per boks tergantung pada merek produk. Sementara di platform e-commerce seperti Shopee dan TikTok Shop, produk sejenis dipasarkan pada rentang nilai Rp 30.000 hingga lebih dari Rp 70.000 per boks dengan isi 50 buah.

BPS Tegaskan Perubahan Desil Tidak Menentukan Angka Kemiskinan

Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan polemik mengenai perubahan posisi desil masyarakat dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Nashrul Wajdi, menegaskan bahwa pergeseran golongan kesejahteraan ini tidak mempunyai hubungan struktural terhadap penurunan nomor kemiskinan secara nasional.

Hal ini dikarenakan kedua parameter tersebut menggunakan konsep, tujuan, serta metodologi pengukuran nan sangat berbeda.

Secara teknis ekonomi, desil membagi populasi ke dalam 10 golongan kesejahteraan nan masing-masing merepresentasikan 10 persen dari total family secara berurutan dari nan terendah hingga tertinggi.

Dinamika naik-turunnya posisi desil penduduk berkarakter relatif dalam pengelompokan internal tersebut dan tidak serta-merta mengubah garis kemiskinan riil.

Sebagai ilustrasi, ketika nomor kemiskinan nasional berada di level 8 persen, jumlah populasi miskin tersebut secara statistik bakal tetap tercakup di dalam kategori desil 1 nan mempunyai porsi 10 persen populasi terbawah.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan