Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, meminta platform media sosial seperti IG dan TikTok mengambil langkah tegas untuk menghentikan kebiasaan anak muda menghabiskan waktu berjam-jam menonton video tanpa henti.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin (13/4), di tengah upaya pemerintah Inggris mempertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi anak-anak.
Saat ini, Inggris sedang menguji beragam kebijakan untuk menangani anak kecanduan medsos, mulai dari larangan penggunaan, jam malam digital, hingga pembatasan waktu penggunaan aplikasi, guna memandang dampaknya terhadap kualitas tidur, kehidupan keluarga, dan prestasi sekolah.
“Kami sedang berkonsultasi apakah perlu ada larangan bagi anak di bawah 16 tahun,” kata Starmer kepada BBC Radio. “Namun nan sama pentingnya, sistem scrolling nan membikin kecanduan ini menurut saya sangat bermasalah. Itu kudu dihilangkan.”
Dilansir Reuters, Starmer menilai perusahaan media sosial secara sengaja merancang algoritma nan mendorong perilaku adiktif. Ia juga menyebut banyak orang tua sekarang meminta pemerintah untuk turun tangan.
Langkah Inggris ini sejalan dengan sejumlah negara nan mulai meletakkan perhatian lebih terhadap akibat negatif media sosial. Australia menjadi negara pertama nan melarang penggunaan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun pada Desember lalu. Indonesia dan Yunani juga mulai menerapkan kebijakan serupa.
Pemerintah Inggris menyatakan lebih dari 45.000 orang telah memberikan tanggapan dalam konsultasi publik mengenai keamanan anak di bumi digital. Masyarakat tetap dapat menyampaikan pendapat hingga tenggat waktu pada 26 Mei 2026. Menteri Teknologi Inggris, Liz Kendall, mengatakan perihal ini dilakukan lantaran pemerintah mau mendengar langsung dari beragam pihak.
“Kami mau mendengar dari para orang tua nan cemas dengan waktu nan dihabiskan anak-anak mereka di bumi maya dan apa nan mereka lihat,” ujarnya.
“Kami mau mendengar dari remaja nan paling memahami seperti apa tumbuh di era media sosial, serta dari family mengenai pandangan mereka soal jam malam digital, chatbot AI, dan fitur-fitur nan membikin ketagihan.”
Langkah nan diambil sejumlah negara termasuk Inggris menegaskan meningkatnya perhatian pemerintah terhadap akibat media sosial terhadap generasi muda, sekaligus membuka kesempatan izin nan lebih ketat di masa depan.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·