Pistachio Jadi 'Korban Baru' Perang di Iran, Stok Langka & Harga Meroket

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Ilustrasi pistachio panggang. Foto: Pavel105/Shutterstock

Kacang pistachio yang terkenal di beragam kudapan viral seperti coklat Dubai sekarang menjadi 'korban baru' perang antara Amerika Serikat dan Iran. Stoknya langka, harganya naik gila-gilaan hingga ke level tertinggi dalam delapan tahun terakhir.

Berdasarkan info lembaga Expana nan dikutip dari Bloomberg, Senin (13/4), pada awal 2018, nilai pistachio berada di kisaran relatif tinggi, mendekati sekitar USD 4,5 per pound, lampau mengalami penurunan tajam dalam beberapa bulan berikutnya. Sepanjang 2019 hingga 2021, nilai bergerak condong stabil namun dalam tren menurun, apalagi sempat menyentuh level terendah di sekitar USD 3-3,2 per pound.

Memasuki periode 2022 hingga awal 2023, nilai mulai pulih secara bertahap, meskipun tetap disertai fluktuasi. Namun, titik kembali nan lebih jelas terlihat sejak 2024, di mana nilai mulai naik lebih konsisten.

Kenaikan semakin tajam pada 2025 hingga Maret 2026, membawa nilai kembali ke kisaran di atas USD 4,0 per pound, apalagi mendekati level tertinggi dalam delapan tahun terakhir.

Kunafa pistachio ala Casa Cuomo Ristorante & Lounge. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Iran merupakan produsen pistachio terbesar kedua di dunia. Sebelum bentrok terjadi, perdagangan pistachio Iran sudah menghadapi tantangan akibat hukuman dan ketegangan geopolitik.

Analis pasar kacang dari Expana Markets, Nick Moss, menyebut produksi tahun 2025 nan lebih mini dari perkiraan serta gangguan komunikasi pada Januari turut memperburuk kondisi pasokan.

“Pecahnya perang pada akhir Februari memperburuk keadaan, memperparah kondisi nan sebelumnya sudah terbatas,” ujar Moss.

Dia juga mengatakan jumlah pistachio nan tersedia semakin menyusut dan distribusinya ke pasar dunia menjadi semakin sulit. “Pistachio sangat sensitif terhadap gangguan di Timur Tengah mengingat peran area ini sebagai produsen utama, pusat transit, dan tujuan pasar," terangnya.

Lonjakan permintaan juga memperparah situasi. Konsumsi pistachio meningkat pesat sejak produk cokelat “Dubai chocolate” viral di media sosial seperti TikTok dan IG pada akhir 2023. Tren ini mendorong permintaan di Eropa, Timur Tengah, dan Asia.

Petani Nayef Ibrahim merawat pohon pistachio di ladangnya, di desa barat laut Maan, Suriah. Foto: Firas Makdesi/REUTERS

Sejumlah merek makanan besar seperti Häagen-Dazs, Táche, hingga Starbucks juga memperluas penggunaan pistachio dalam produk mereka. Berdasarkan info Expana, nilai pistachio AS telah naik sekitar 30 persen dalam dua tahun sejak akhir 2023.

Data Departemen Pertanian AS menunjukkan Iran menyumbang sekitar 20 persen produksi pistachio dunia dan sepertiga ekspor dunia. Sementara itu, AS menguasai sekitar 40 persen produksi dan separuh pengiriman global.

Akibat tekanan pasokan dan gangguan perdagangan, nilai pistachio mencapai USD 4,57 per pon pada Maret-level tertinggi sejak Mei 2018.

Dampak perang juga terasa pada sektor logistik. Gyana Ranjan Das dari Crown Point Ltd mengatakan perang ini memicu perusahaan pelayaran membatalkan seluruh pemesanan baru mulai 2 Maret untuk pengiriman ke Timur Tengah.

"Konflik ini juga mengganggu pengiriman ke India, salah satu importir besar kacang-kacangan dunia," jelasnya.

Meski belum ada kepastian apakah kebun pistachio di Iran terdampak langsung oleh serangan militer, gangguan jalur logistik menuju pusat perdagangan seperti Uni Emirat Arab dan Turki sudah terjadi.

Moss memperingatkan jika bentrok berlanjut, pasokan dunia bisa semakin tertekan. “Bahkan bagi pembeli nan biasanya tidak mengambil pasokan langsung maupun tidak langsung dari Iran, persaingan untuk mendapatkan stok dari sumber lain bisa meningkat akibat keterbatasan pasokan ini,” ujarnya.

Seorang pekerja memajang kacang pistachio di sebuah pabrik di kota Morek, Suriah. Foto: Firas Makdesi/REUTERS

Kondisi ini berpotensi memaksa produsen makanan untuk meningkatkan harga, mengubah resep, alias beranjak ke bahan baku nan lebih murah.

Dalam industri makanan ringan, pergantian jenis kacang memang lazim dilakukan lantaran aspek harga. Namun, menggantikan pistachio sebagai bahan utama tidak selalu mudah. Das apalagi memperkirakan produk es krim tahun ini bakal terdampak.

“Sepertinya es krim pada musim panas tahun ini bakal kehilangan rasa pistachio, alias setidaknya rasanya bakal lebih ringan,” ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan