Piala Dunia & Ketahanan Energi: Membangun Kesebelasan Energi di Tengah Ketidakpastian Global

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Piala Dunia selalu menghadirkan pelajaran nan melampaui sepak bola. Turnamen ini menunjukkan bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh pemain paling mahal alias bintang paling bersinar.

Argentina menjadi juara bumi lantaran mempunyai mental juara, organisasi permainan, dan kepemimpinan nan kuat. Prancis konsisten berada di level tertinggi berkah regenerasi nan melangkah baik. Brasil selalu melahirkan pemain berbakat, tetapi tetap memerlukan disiplin kolektif.

Inggris mempunyai skuad berbobot miliaran euro, namun tetap terus mencari konsistensi. Portugal berkembang menjadi kekuatan baru lantaran bisa mengombinasikan pengalaman dengan generasi muda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pandangan saya, tim nan berkesempatan besar menjuarai Piala Dunia 2026 bukanlah tim nan sekadar mempunyai pemain terbaik, tetapi tim nan mempunyai kesebelasan paling lengkap: pertahanan nan kokoh, lini tengah nan cerdas, penyerang nan efektif, bangku persediaan nan berkualitas, dan pembimbing nan bisa membaca perubahan permainan.

Analogi itu sangat relevan dengan kondisi daya bumi saat ini. Energi sedang memainkan "Piala Dunia"-nya sendiri. Pertandingan nan jauh lebih panjang, lebih kompleks, dan lebih menentukan masa depan sebuah bangsa. Ketegangan geopolitik, perang dagang, bentrok kawasan, gangguan rantai pasok, perubahan iklim, hingga percepatan transisi daya telah mengubah daya dari sekadar komoditas ekonomi menjadi instrumen strategis nan menentukan daya saing negara.

Ironisnya, di tengah beragam upaya transisi menuju daya bersih, bumi tetap sangat berjuntai pada daya fosil. Sekitar 86% konsumsi daya primer bumi tetap berasal dari minyak, gas bumi, dan batu bara. Artinya, transisi daya bukanlah perlombaan mengganti satu sumber daya dengan sumber lainnya, melainkan gimana membangun keseimbangan baru antara ketahanan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan lingkungan.

Dalam sepak bola, tidak ada tim juara nan hanya mengandalkan sebelas penyerang. Semua posisi mempunyai kegunaan nan berbeda namun saling melengkapi. Demikian pula dalam sistem daya nasional.

Batu bara adalah bek tengah nan menjaga stabilitas sistem kelistrikan. Gas bumi adalah gelandang memperkuat nan menjadi penghubung menuju masa depan daya rendah karbon. Energi baru terbarukan merupakan sayap sigap nan menjanjikan masa depan, tetapi memerlukan ruang dan support sistem agar bisa berkembang optimal. Minyak bumi tetap menjadi striker nan menopang transportasi dan industri. Sementara panas bumi, hidro, bioenergi, hidrogen, nuklir, hingga penyimpanan daya adalah pemain ahli nan sewaktu-waktu dapat menjadi pembeda dalam pertandingan panjang.

Namun membangun kesebelasan daya Indonesia tidaklah mudah. Realita hari ini menunjukkan bahwa kita sedang menghadapi beberapa tekanan sekaligus.

Pertama, ketergantungan terhadap batu bara tetap sangat besar. Batu bara tetap menjadi "bek tengah" utama sistem kelistrikan nasional. Ketika pasokan terganggu, kualitas tidak sesuai spesifikasi pembangkit, logistik tersendat, alias skema DMO diperdebatkan, maka stabilitas sistem listrik nasional ikut terpengaruh. Persoalan daya Indonesia hari ini bukan lagi sekadar mempunyai persediaan batu bara nan besar, tetapi gimana memastikan kualitas, distribusi, harga, dan tata kelola pasokan melangkah secara efektif.

Kedua, transisi daya belum bergerak secepat dinamika global. Bauran daya baru terbarukan Indonesia memang terus meningkat dan telah mencapai sekitar 17,89%, mendekati sasaran pemerintah. Namun nomor tersebut juga menunjukkan bahwa daya fosil tetap mendominasi bauran daya nasional. Tantangannya bukan sekadar membangun pembangkit EBT, melainkan membangun ekosistem nan memungkinkan daya bersih berkembang secara berkelanjutan.

Ketiga, investasi dan prasarana menjadi titik krusial. Energi terbarukan tidak cukup hanya dibangun pembangkitnya. Dibutuhkan jaringan transmisi nan andal, smart grid, akomodasi penyimpanan daya (energy storage), kepastian tarif, kepastian pembelian listrik (offtaker), serta izin nan memberikan kepastian bagi investor. Tanpa fondasi tersebut, transisi daya bakal melangkah lebih lambat dibanding kebutuhan dunia.

Keempat, geopolitik menjadikan daya semakin strategis. Konflik di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, serta rivalitas ekonomi dunia membikin nilai daya semakin bergejolak. Indonesia nan tetap mengimpor minyak dalam jumlah besar tentu sangat sensitif terhadap kenaikan nilai minyak bumi maupun pelemahan nilai tukar rupiah. Dalam konteks inilah kebijakan seperti program B50 menjadi krusial sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan impor BBM sekaligus memperkuat ketahanan daya berbasis sumber daya domestik.

Dengan realita tersebut, Indonesia tidak bisa hanya bermain bertahan. Kita memerlukan strategi nan seimbang antara bertahan, menyerang, dan membangun regenerasi.

Batu bara tetap menjaga keandalan sistem listrik nasional. Gas bumi menjadi daya transisi nan fleksibel. Energi baru terbarukan kudu terus dipercepat. Bioenergi memperkuat kemandirian nasional. Panas bumi menjadi kelebihan kompetitif Indonesia. Sementara pembangunan jaringan transmisi, LNG, CNG, digitalisasi sistem energi, hingga penyimpanan daya menjadi "lini tengah" nan menghubungkan seluruh pemain dalam satu strategi besar.

Seperti halnya Piala Dunia, tim nan hanya mempunyai striker tajam tetapi pertahanannya rentan bakal susah menjadi juara. Sebaliknya, tim nan hanya memperkuat tanpa keberanian menyerang juga tidak bakal memenangkan pertandingan.

Begitu pula dengan energi. Negara nan hanya mengejar daya bersih tanpa menjaga keandalan pasokan bakal menghadapi akibat krisis energi. Sebaliknya, negara nan terlalu lama berjuntai pada daya konvensional bakal kehilangan daya saing dalam ekonomi hijau global.

Pelajaran terbesar dari Piala Dunia adalah bahwa juara selalu lahir dari keseimbangan. Pertahanan nan kuat, lini tengah nan kreatif, penyerang nan efektif, persediaan nan berkualitas, serta pembimbing nan bisa membaca perubahan permainan.

Indonesia sesungguhnya mempunyai seluruh pemain nan dibutuhkan. Kita mempunyai batu bara, gas bumi, panas bumi terbesar kedua di dunia, potensi hidro, bioenergi, daya surya, hingga persediaan mineral kritis nan menjadi fondasi transisi daya global.

Tugas kita bukan memilih salah satunya. Tugas kita adalah menjadikan seluruh potensi tersebut bermain sebagai satu kesebelasan daya nasional. Karena pada akhirnya, kemenangan dalam daya bukan ditentukan oleh siapa nan paling sigap meninggalkan daya lama alias paling garang mengejar daya baru.

Kemenangan ditentukan oleh siapa nan bisa menjaga keseimbangan antara ketahanan pasokan (energy security), keterjangkauan nilai (energy affordability), keberlanjutan lingkungan (energy sustainability), dan daya saing ekonomi nasional.

Sebagaimana Piala Dunia, pertandingan daya juga tidak dimenangkan oleh tim nan mempunyai pemain paling mahal. Ia dimenangkan oleh tim nan mempunyai strategi terbaik, organisasi permainan nan solid, keahlian beradaptasi terhadap perubahan, dan keberanian mengambil keputusan pada saat nan tepat.

Indonesia mempunyai semua pemainnya. Kini saatnya kita membangun kesebelasan daya nasional nan bisa bertanding bukan hanya untuk memenangkan pertandingan hari ini, tetapi juga menjadi juara dalam kejuaraan daya dunia di masa depan.

Dr. Anggawira

Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batu Bara Indonesia (ASPEBINDO)

Sekretaris Jenderal DPP Himpunan Alumni IPB.

Aktif memberikan pemikiran mengenai ketahanan energi, investasi, transisi energi, dan daya saing ekonomi Indonesia.

(hns/hns)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance