MUSE Intelligence resmi memperluas bisnisnya ke Asia Tenggara.(Dok. MetroTv)
PERUSAHAAN teknologi finansial MUSE Intelligence resmi memperluas bisnisnya ke Asia Tenggara dengan mendirikan instansi pusat regional di Singapura. Ekspansi ini menyasar sektor perbankan dan manajemen kekayaan, termasuk di Indonesia, melalui pengembangan teknologi kajian aset bentuk berbobot tinggi, seperti peralatan mewah dan koleksi, untuk mendukung keputusan investasi.
Pendiri sekaligus CEO MUSE, Michelle Zhang, mengatakan perusahaan tengah mengembangkan prasarana info nan memungkinkan lembaga keuangan menilai aset bentuk secara lebih transparan dan konsisten. Langkah tersebut dilakukan untuk mengatasi keterbatasan info harga, kondisi, dan riwayat kepemilikan aset nan selama ini menyulitkan penilaian investasi.
“Banyak aset bentuk berbobot nan susah dinilai secara konsisten oleh lembaga finansial lantaran info di sekitarnya terfragmentasi,” ujar Michelle dalam keterangan resminya pada Rabu (21/10).
Menurutnya, MUSE Intelligence mengembangkan MUSE Luxury Investment Index (MLII) alias Indeks Investasi Mewah sebagai instrumen pembanding untuk mengukur keahlian aset mewah. Indeks tersebut dirancang untuk mendukung riset investasi, kajian risiko, serta pengelolaan portofolio lembaga keuangan.
“Kami sedang membangun prasarana info dan tolok ukur untuk membantu menutup kesenjangan tersebut. MLII adalah titik awal kami, dan tugas kami selanjutnya adalah menguji gimana intelijen tersebut dapat mendukung keputusan di dalam lembaga keuangan,” jelasnya.
Pengembangan teknologi tersebut dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan lembaga finansial terhadap transparansi investasi dan diversifikasi portofolio akibat ketidakpastian ekonomi global. Persoalan ini turut menjadi perhatian dalam Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand, pada 12-18 Oktober 2026.
Dalam tahap awal ekspansi, MUSE Intelligence bakal memprioritaskan empat negara, ialah Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Perusahaan berencana menggandeng sejumlah lembaga finansial untuk menguji penerapan MLII sebelum dikembangkan menjadi jasa komersial.
Sementara itu, Chief Commercial Officer (CCO) MUSE Intelligence untuk Indonesia, Dicky Sukarmadji, menegaskan Indonesia menjadi salah satu pasar utama dalam pengembangan upaya perusahaan di area Asia Tenggara.
“Prioritas utama kami adalah bekerja sama dengan mitra lembaga finansial pada proyek percontohan nan terdefinisi dengan jelas,” kata Dicky.
Ia menjelaskan, Singapura bakal menjadi pusat koordinasi regional, sedangkan Indonesia mendapat perhatian unik dalam pengembangan kerja sama dengan sektor perbankan.
“Singapura bakal menjadi pedoman regional kami, dan Indonesia sebagai pusat konsentrasi awal kami. Uji coba ini bakal membantu kami memahami di mana MLII dapat memberikan nilai terbesar bagi perbankan dan pengguna mereka,” ujarnya.
Selain jasa investasi konvensional, MUSE Intelligence juga menjajaki kesempatan penerapan teknologi kajian aset dalam pengelolaan kekayaan berbasis syariah alias Islamic Wealth Management, khususnya di Indonesia dan Malaysia.
Namun, pengembangan jasa tersebut tetap memerlukan proses penyaringan aset, penguatan tata kelola, serta penilaian dari penasihat syariah nan mempunyai kualifikasi sesuai ketentuan.
Dari sisi teknologi, MUSE Intelligence memanfaatkan kepintaran buatan (AI) untuk menganalisis pergerakan nilai dan pola permintaan aset. Perusahaan juga menggunakan teknologi blockchain untuk mendukung penelusuran catatan aset dalam ekosistem platform MUSE.
Platform tersebut menghubungkan penanammodal dan pembeli beraset tinggi dengan pemasok aset bentuk nan mempunyai potensi investasi. Fasilitasnya mencakup penyimpanan catatan aset digital, transaksi jual beli kembali, serta proses verifikasi identitas pengguna alias Know Your Customer (KYC).
Ke depan, perusahaan menargetkan pengembangan teknologi nan dapat digunakan untuk penilaian aset, pengukuran risiko, hingga kajian aset nan berpotensi dijadikan agunan pembiayaan.
Meski demikian, penerapan jasa tersebut tetap berjuntai pada kualitas data, pengetesan metodologi, kebutuhan lembaga keuangan, serta pemenuhan ketentuan regulasi.
MUSE Intelligence juga berencana melakukan penggalangan biaya strategis setelah proyek percontohan berbareng lembaga finansial dimulai. Hasil pengetesan bakal menjadi dasar bagi perusahaan untuk menentukan strategi ekspansi dan komersialisasi jasa di Asia Tenggara. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·