Sinematek, lembaga sebagai pusat arsip perfilman Indonesia nan didirikan Misbach Yusa Biran dan Asrul Sani pada 1971(MI/Teresia Aan Meliana )
PERINGATAN 101 tahun kelahiran sastrawan dan sineas Indonesia Asrul Sani menjadi momentum untuk menegaskan kembali relevansi karya-karyanya di tengah tantangan literasi nan tetap dihadapi Indonesia. Warisan pemikiran, sastra, dan film nan ditinggalkan tokoh Angkatan 45 itu dinilai tetap krusial untuk mendekatkan generasi muda pada budaya membaca dan berpikir kritis.
Hal tersebut mengemuka dalam peringatan 101 tahun kelahiran Asrul Sani nan digelar di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Selasa (9/6).
Kepala Perpustakaan Nasional, Aminuddin Aziz, mengatakan peringatan tokoh sastra tidak sekadar menjadi arena mengenang masa lalu, melainkan juga menghadirkan kembali pendapat dan karya nan tetap relevan bagi masyarakat saat ini.
Menurut dia, tantangan literasi Indonesia tetap cukup berat. Data terbaru Program Tes Kemampuan Akademik nan dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan nilai Bahasa Indonesia rata-rata siswa tetap berada di kisaran 55 hingga 60 poin.
"Kemampuan logika anak-anak kita, unik dalam Bahasa Indonesia, tetap tergolong menengah ke bawah. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan rumah kita dalam bagian literasi tetap sangat besar," ujarnya.
Aminuddin menilai salah satu penyebab rendahnya literasi adalah kurang tersedianya bahan referensi nan menarik bagi masyarakat dan peserta didik. Karena itu, karya-karya sastra para tokoh nasional seperti Asrul Sani perlu terus dihidupkan kembali agar dapat menjangkau pembaca lintas generasi.
Ia mengungkapkan Perpusnas tengah mendorong beragam upaya penyesuaian karya sastra ke dalam corak nan lebih dekat dengan generasi muda, seperti komik, cerita digital, maupun media imajinatif lainnya.
"Yang kurang bukan minat membacanya. Masyarakat dan anak-anak sebenarnya mau membaca. nan kurang adalah bahan referensi nan menarik dan sesupaai dengan kebutuhan mereka," katanya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta mengatakan Asrul Sani merupakan salah satu tokoh krusial nan membentuk arah perkembangan sastra, perfilman, dan pemikiran kebudayaan Indonesia.
Sebagai penyair Angkatan 45, penulis skenario, sutradara, dan budayawan, Asrul Sani dinilai sukses menghadirkan semangat kemerdekaan, kemanusiaan, dan identitas bangsa melalui karya-karyanya.
Bambang mencontohkan sejumlah karya krusial Asrul Sani, termasuk movie Naga Bonar, nan menunjukkan bahwa karya budaya dapat menjadi ruang refleksi sosial sekaligus sarana pendidikan bagi masyarakat.
"Warisan Pak Asrul Sani tetap hidup. Semangat kreativitas, intelektualitas, dan keyakinannya bahwa kebudayaan adalah fondasi peradaban bangsa tetap menjadi inspirasi bagi generasi sekarang," ujarnya.
Koleksi Sang Maestro
Perpusnas mencatat sedikitnya 80 koleksi nan berangkaian dengan Asrul Sani tersimpan di lembaga tersebut, terdiri atas buku, majalah, surat kabar, foto, dan rekaman audio. Sebagian koleksi itu dipamerkan hingga 17 Juni 2026 sebagai bagian dari rangkaian peringatan 101 tahun kelahiran sang maestro. Di tengah kekhawatiran terhadap rendahnya keahlian literasi, peringatan Asrul Sani menjadi pengingat bahwa sastra dan movie bukan hanya produk kebudayaan, tetapi juga sarana membangun daya nalar, imajinasi, dan karakter bangsa.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·