Penguatan nilai tukar rupiah beberapa waktu terakhir dinilai memberi ruang napas bagi pelaku upaya di tengah tekanan biaya nan tetap membayangi aktivitas bisnis. Rupiah sendiri ditutup menguat ke level Rp 17.860 pada perdagangan Jumat (12/6).
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, mengatakan penguatan ini menjadi perkembangan positif nan memberikan kepastian bagi bumi upaya dalam menyusun perencanaan bisnis.
Nilai tukar nan stabil bakal membantu perusahaan menghitung biaya produksi, pengadaan bahan baku, penetapan nilai produk, pengelolaan arus kas, hingga pengambilan keputusan strategis lainnya.
“Sejauh ini, penguatan rupiah berpotensi memberi ruang bernapas bagi pelaku usaha, terutama dalam menahan kenaikan biaya input dan menjaga margin agar tidak semakin tertekan,” kata Shinta kepada kumparan, Sabtu (13/6).
Tidak Semua Sektor Berdampak
Meski demikian, Shinta mengingatkan dampaknya tidak serta-merta merata di seluruh sektor usaha. Sebab, tekanan biaya nan dihadapi pelaku upaya berasal dari beragam faktor, bukan hanya nilai tukar.
Sektor manufaktur, misalnya, tetap menghadapi tantangan besar akibat tingginya ketergantungan pada bahan baku dan peralatan antara impor. Di sisi lain, biaya logistik, energi, dan pembiayaan juga tetap menjadi beban nan signifikan.
“Jadi, penguatan rupiah membantu meredakan tekanan, tetapi belum otomatis menghapus seluruh beban biaya nan selama ini dihadapi bumi usaha,” ujarnya.
Perusahaan dengan kebutuhan impor rutin maupun tanggungjawab kurs asing sekarang bisa sedikit lega lantaran tekanan terhadap arus kas mereka menjadi lebih ringan.
Namun, bumi upaya tetap memerlukan stabilitas berkelanjutan, bukan sekadar penguatan sesaat, lantaran volatilitas nilai tukar nan tinggi tetap menyulitkan perencanaan upaya jangka panjang.
Untuk menjaga keberlanjutan operasional, pelaku upaya terus melakukan beragam mitigasi. Beberapa strategi nan ditempuh antara lain meningkatkan efisiensi operasional, mengendalikan biaya non-esensial, memperkuat manajemen persediaan, serta menyesuaikan sumber pasokan.
Sejumlah perusahaan juga memilih menunda ekspansi alias investasi baru nan belum mendesak, sembari konsentrasi memperkuat diversifikasi pasar dan rantai pasok.
Sebagian perusahaan sebenarnya memanfaatkan strategi lindung nilai (hedging) untuk mengelola akibat kurs. Namun, instrumen tersebut susah diakses oleh pelaku upaya mini dan menengah lantaran memerlukan biaya tambahan dan kapabilitas finansial tertentu.
Shinta berambisi momentum penguatan rupiah ini dapat terus terjaga melalui koordinasi kebijakan nan andal antara pemerintah dan otoritas moneter.
“Bagi bumi usaha, stabilitas makro perlu melangkah beriringan dengan perbaikan suasana usaha, efisiensi logistik dan energi, serta kepastian izin agar pemulihan industri dan investasi dapat berjalan lebih kuat,” jelasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·