Peringatan Dini Tsunami Berakhir, Nelayan di Ngada NTT kembali Melaut

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Peringatan Dini Tsunami Berakhir, Nelayan di Ngada NTT kembali Melaut Ilustrasi Kapal Nelayan.(MI/Palce Amalo)

NELAYAN di pesisir Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur kembali melaut setelah dua pekan terhenti akibat gempa magnitude 7,7.

Direktur Pengelolaan Logistik dan Peralatan BNPB Bambang Surya Putra mengunjungi dan berbincang dengan nelayan di pesisir tersebut. Menurutnya, kembalinya nelayan melaut menjadi salah satu tanda kehidupan ekonomi masyarakat pesisir kembali bergerak dalam masa pemulihan pascabencana.

"Peringatan awal tsunami akibat gempa telah dinyatakan berhujung oleh BMKG. Karena itu, masyarakat, termasuk para nelayan, secara berjenjang dapat kembali menjalankan aktivitasnya. Namun, kewaspadaan tetap kudu dijaga dan info resmi dari BMKG maupun pemerintah wilayah kudu terus diikuti,” ujar Bambang lewat keterangan tertulis, Rabu (2/9).

Menurutnya, kepastian info dibutuhkan agar penduduk dapat kembali menjalankan kehidupan sehari-hari tanpa mengabaikan keselamatan.

“Kita tidak mau masyarakat terus hidup dalam ketakutan. nan perlu kita bangun adalah kesiapsiagaan. Kehidupan dan aktivitas ekonomi masyarakat kudu mulai melangkah kembali, dengan tetap mengikuti info resmi,” katanya.

Sementara itu, pemulihan di Ngada tidak hanya menyangkut kembalinya aktivitas ekonomi, tetapi pemerintah juga mempercepat pendataan dan verifikasi rumah penduduk terdampak sebagai dasar penyaluran support hunian.

Menurutnya, Anggota Unsur Pengarah BNPB Dr. Drs. Isroil Samihardjo, M.Def.Stud., berbareng Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu menemui tokoh kepercayaan di Stasi Keluarga Roh Kudus Nazareth, Kelurahan Nangamese, Kecamatan Riung.

Pertemuan dengan para tokoh kepercayaan bermaksud memperoleh masukan mengenai kondisi masyarakat sekaligus memperkuat support terhadap proses pemulihan.

Menurut Isroil, pemerintah menyiapkan support pembangunan kediaman tetap sebesar Rp60 juta untuk rumah rusak berat, Rp30 juta untuk rumah rusak sedang, dan Rp15 juta untuk rumah rusak ringan. Sementara penduduk nan memerlukan kediaman sementara disiapkan support sebesar Rp30 juta.

Karena itu, kecermatan info menjadi perihal krusial agar support diberikan sesuai tingkat kerusakan dan tepat sasaran.

“Data kudu betul-betul sah lantaran bakal menjadi dasar pemerintah dalam menentukan siapa nan berkuasa menerima support dan jenis support nan diberikan. Jangan sampai masyarakat nan memang berkuasa justru tidak tercatat, alias sebaliknya,” ujar Isroil.

Untuk mendukung proses tersebut, Pemerintah Kabupaten Ngada telah menerjunkan 160 petugas berasas Surat Keputusan Bupati Ngada untuk melakukan pendataan dan verifikasi rumah penduduk terdampak.

Isroil juga meminta support tokoh kepercayaan lantaran mereka mempunyai kedekatan dengan masyarakat dan mengetahui kondisi penduduk di wilayah pelayanan masing-masing.

“Penanggulangan musibah bukan semata-mata membangun kembali rumah nan rusak. nan kita pulihkan adalah kehidupan masyarakat. Karena itu, pemerintah perlu mendengar masyarakat dan menggandeng tokoh-tokoh nan berada dekat dengan mereka,” katanya.

Dia menyebutkan, pemulihan pascagempa di Ngada sekarang melangkah bertahap, mulai dari mendorong masyarakat kembali menjalankan aktivitas ekonomi, memperbaiki pedoman info kerusakan rumah hingga memperkuat support tokoh kepercayaan dan masyarakat. (PO)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia