Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata duit asing dinilai dapat memberikan untung bagi sektor pariwisata Indonesia. Kondisi tersebut membikin biaya berekreasi di Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi visitor mancanegara.
Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran mengatakan akibat penguatan mata duit asing terhadap rupiah perlu dilihat dari beragam sisi. Salah satunya adalah kesempatan peningkatan kunjungan visitor dari negara-negara tetangga.
"Kita kudu mengurai persoalan ini. Dari sisi visitor mancanegara, kondisi rupiah nan tertekan tentu membikin daya beli mereka menjadi lebih kuat saat berada di Indonesia," kata Maulana kepada CNBC Indonesia, Selasa (2/6/2026).
Wisatawan dari negara dengan mata duit nan menguat condong memperoleh untung lebih besar ketika melakukan pengeluaran selama berpiknik di Indonesia. Hal tersebut berpotensi mendorong peningkatan aktivitas wisata.
Selain aspek kurs, tren perjalanan internasional juga dipengaruhi oleh meningkatnya biaya perjalanan jarak jauh. Kondisi ini membikin visitor lebih memilih destinasi nan lokasinya berdekatan dengan negara asal mereka.
Wisatawan mancanegara beraktivitas di Pantai Kuta, Denpasar, Bali, Sabtu (25/5/2024). Pantai Kuta tetap menjadi primadona visitor mancanegara nan berjamu ke Bali. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Wisatawan mancanegara beraktivitas di Pantai Kuta, Denpasar, Bali, Sabtu (25/5/2024). Pantai Kuta tetap menjadi primadona visitor mancanegara nan berjamu ke Bali. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
"Mungkin nan bakal diuntungkan adalah visitor dari negara-negara terdekat seperti Singapura, Malaysia dan negara ASEAN lainnya. Mereka bisa memilih Indonesia sebagai tujuan perjalanan lantaran lebih dekat," ujarnya.
Indonesia dinilai mempunyai kesempatan menarik visitor regional nan sebelumnya mempertimbangkan perjalanan ke destinasi nan lebih jauh. Dengan biaya nan lebih kompetitif, sektor pariwisata domestik berpotensi memperoleh tambahan pasar.
"Dari sisi spending tentu menguntungkan. Mereka memegang mata duit nan lebih kuat sehingga pengeluaran mereka di Indonesia menjadi lebih besar dibanding sebelumnya," kata Maulana.
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa untung tersebut belum tentu langsung tercermin dalam peningkatan okupansi hotel. Masih terdapat sejumlah aspek lain nan mempengaruhi pengedaran visitor di lapangan.
Salah satunya adalah keberadaan akomodasi tidak resmi nan selama ini menjadi perhatian pelaku industri pariwisata. Wisatawan nan datang belum tentu seluruhnya menginap di hotel formal.
"Bisa saja ada akibat ke okupansi hotel jika visitor meningkat. Tetapi kita juga kudu memandang persoalan akomodasi liar nan sampai sekarang tetap menjadi rumor di beragam wilayah tujuan wisata," sebut Maulana.
(fys/wur)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·