Pengamat Ungkap Kriteria yang Cocok Pimpin NU: Paham Perubahan-Mampu Eksekusi

Sedang Trending 53 menit yang lalu
CEO Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, dalam agenda Serial Diskusi Muktamar Ke-35 NU di Jakarta, Selasa (18/8/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

CEO Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, memandang adanya perubahan besar dalam tubuh penduduk Nahdlatul Ulama (NU), mulai dari pertumbuhan anak muda hingga kelas menengah. Perubahan itu, menurut Hasanuddin, menuntut NU memilih pemimpin nan tak hanya memahami persoalan, tapi juga bisa menawarkan pendapat dan mengeksekusinya.

Pernyataan itu disampaikan Hasanuddin dalam agenda Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU berjudul “Stop Politik Transaksional di Muktamar NU” di Jakarta Pusat, Selasa (18/8).

Hasanuddin mengatakan, banyak generasi muda nan menjadi NU lantaran warisan keluarga. Ke depan, mereka memerlukan argumen nan lebih nyata untuk tetap menjadi bagian dari NU.

“Anak-anak muda nan kelahiran 92 sampai 2010-an itu memang menjadi NU, tapi bukan NU nan sekadar diwariskan. Mereka itu memerlukan argumen nan lebih real kenapa saya kudu menjadi NU,” terang Hasanuddin.

Menurut dia, kejadian itu banyak terjadi di masyarakat NU perkotaan.

Dia kemudian menyebut pendidikan sebagai salah satu perubahan nan perlu diperhatikan. Menurut Hasanuddin, sekarang semakin banyak penduduk NU nan tidak hanya mendapatkan pendidikan agama, tetapi juga berilmu tinggi.

“Dari sisi pendidikan. Banyak sekarang penduduk kita nan pendidikannya sudah bagus. Tidak hanya agama,” ujarnya.

Selain itu, Hasanuddin menyoroti pertumbuhan kelas menengah di kalangan penduduk NU. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bagian dari mobilitas vertikal nan terjadi dalam 10 tahun terakhir.

“Kemudian nan keempat nan sangat krusial adalah kelas menengah. Harus disadari teman-teman sekalian, dalam 10 tahun terakhir ini terjadi mobilitas vertikal. nan dulu jika di muktamar nan bawa mobil sedikit, jika sekarang bawa mobil semua. Di kalangan penduduk kita juga golongan menengah semua,” tutur dia.

Selanjutnya, Hasanuddin juga mendorong NU memberikan ruang lebih luas kepada golongan perempuan.

Ilustrasi Nahdlatul Ulama. Foto: Setyawan Aref/Shutterstock

“Yang kelima kita berambisi NU kelak datang di kelompok-kelompok perempuan. Kita tahu golongan wanita ini kudu dikasih ruang nan lebih luas. Jangan ditaruh di satu tempat tapi dikasih ruang nan lebih luas,” jelas Hasanuddin.

Dalam kesempatan itu, Hasanuddin pun menilai perubahan tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam memilih pemimpin NU di usianya nan sudah 2 abad. Ia apalagi mengaku pesimis lantaran memandang tren perkembangan Indonesia nan dinilainya berlawanan dengan pedoman tradisional NU.

“Saya ini agak pesimis dengan NU. Karena saya memandang tren Indonesia itu agak bertolak belakang dengan NU. NU itu kuatnya di mana? Pedesaan, menengah ke bawah, tapi tren Indonesia berlawanan dengan itu semua,” bebernya.

Karena itu, Hasanuddin berambisi siapa pun nan terpilih sebagai pemimpin NU dapat memahami kondisi tersebut.

“Nah saya sih berambisi bahwa siapa pun ketua nan terpilih kelak itu mengerti bakal situasi,” katanya.

Dia menjelaskan, pemimpin NU kudu memahami perubahan dan mempunyai kesadaran terhadap masa depan NU dan Indonesia.

“Yang pertama, dia itu orang nan paham, tidak hanya paham, tapi juga punya kesadaran, punya kegelisahan memandang masa depan NU dan Indonesia. Dengan memandang situasi kondisi, tadi kelas menengah tumbuh, anak muda tumbuh, terus kemudian perkotaan naik,” jelas Hasanuddin.

Kemudian, Hasanuddin menilai seorang pemimpin kudu mempunyai visi, ide, dan pendapat untuk menjawab beragam perubahan nan dihadapi NU. Menurutnya, tradisi tetap penting, tetapi pemimpin juga perlu menawarkan pendapat nan relevan dengan kondisi NU ke depan.

“Saya tidak mengatakan bahwa tradisi itu tidak penting. Tradisi tetap penting, tradisi tetap penting, tapi jauh lebih krusial adalah bahwa dia mempunyai pendapat untuk menjawab perubahan-perubahan nan dihadapi oleh NU terutama,” papar dia.

Lebih jauh, menurut Hasanuddin pemimpin juga kudu bisa menggerakkan sumber daya untuk menjalankan pendapat tersebut.

“Nah nan ketiga adalah dia kudu bisa mengorkestrasi semua sumber daya nan diberikan. Tidak cukup dia hanya mengerti, tidak cukup dia hanya punya fisik, tapi dia juga bisa mengorkestrasi semua sumber daya dengan idenya,” papar Hasanuddin.

“Dia tidak cukup (menjadi) man of ideas, tapi dia juga kudu punya nan namanya man of execution,” sambungnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan