Iin menjelaskan, Kecamatan Tambora dipilih sebagai letak percontohan pertama lantaran mempunyai karakter wilayah nan padat dan menghasilkan jenis limbah nan spesifik.
"Tambora mempunyai kepadatan masyarakat tertinggi dan keterbatasan lahan untuk TPS. Selain itu, Tambora mempunyai potensi sampah dari limbah industri konveksi. Jika tidak diolah dengan baik, ini bakal menjadi persoalan," terang dia.
"Setelah Tambora, Pemkot Jakbar berkomitmen untuk menerapkan penggunaan Eco Lindi di tujuh kecamatan lainnya secara bertahap, dibarengi dengan koordinasi dan sosialisasi mengenai teknologi tersebut," jelas Iin.
Sementara itu, penemu cairan Eco Lindi, Rania Naura Anindhita mengungkapkan, penemuan ini telah dia kembangkan sejak bangku kuliah sekitar 4,5 tahun lampau dan sekarang sudah diterapkan di lebih dari tujuh TPA di Indonesia.
"Bahan utamanya adalah air lindi. Tujuannya membikin air lindi nan ramah lingkungan dengan memicu proses katalisis agar sampah tidak bau, tidak menghasilkan gas metana, dan tidak mengundang lalat," papar Rania.
Ia juga memastikan bahwa cairan formulasi ini kondusif bagi lingkungan berasas hasil uji coba nan telah dilakukan.
"Untuk keamanannya saya cukup percaya diri lantaran sudah dipraktikkan. Bahkan saat dieksperimenkan pada tanaman dan kolam ikan, tanaman serta ikannya tidak mati," pungkas Rania.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·