Ilustrasi(Dok Kemenag DIY)
PARA pemimpin pondok pesantren di Kabupaten Sumedang secara resmi mendeklarasikan komitmen untuk menjadikan pesantren sebagai ruang nan kondusif dan nyaman bagi seluruh santri. Deklarasi ini disampaikan langsung di hadapan Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, beserta jejeran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kantor Kementerian Agama, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Kegiatan nan berjalan dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional 2026 ini dipusatkan di Aula Pondok Pesantren Darul Hikmah, Desa Sukawangi, Kecamatan Tanjungkerta. Langkah ini menjadi tonggak krusial dalam memperkuat perlindungan anak di lingkungan pendidikan berbasis kepercayaan di wilayah tersebut.
Gerakan Nasional Pesantren Ramah Anak (Gernas Rana)
Deklarasi ini merupakan bagian dari penerapan Gerakan Nasional Pesantren Ramah Anak dan Lingkungan (Gernas Rana). Gerakan ini bermaksud memperkuat komitmen kolektif dalam menciptakan ekosistem pesantren nan ramah, aman, dan nyaman, tidak hanya bagi santri, tetapi juga bagi para asatidz serta ketua pesantren.
Selain sebagai upaya preventif, momentum ini juga dimanfaatkan untuk menjaga dan mengembalikan kepercayaan publik. Hal ini dinilai krusial di tengah dinamika info dan beragam rumor negatif nan berpotensi mencederai gambaran lembaga pesantren di mata masyarakat.
Adaptasi Terhadap Tantangan Zaman
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, dalam arahannya membujuk seluruh komponen masyarakat dan ketua pondok pesantren untuk memperkuat kolaborasi. Sinergi ini diperlukan guna menjaga marwah pesantren dari akibat negatif perkembangan era serta pengaruh media sosial.
"Deklarasi ini menjadi komitmen kita bersama. Zaman sudah berubah dengan cepat, tantangan pun semakin kompleks. Kita kudu sigap beradaptasi dengan perubahan tersebut, tetap ramah terhadap peserta didik dan lingkungannya, serta menjaga nilai-nilai luhur dan marwah pesantren," ujar Dony.
Sinergi Lintas Sektoral
Melalui deklarasi ini, pondok pesantren di Kabupaten Sumedang diharapkan dapat tumbuh menjadi lembaga nan semakin adaptif dan berkekuatan saing. Fokus utamanya adalah melahirkan generasi muda nan tidak hanya berilmu, tetapi juga beradab mulia, sehat, mandiri, serta mempunyai kepedulian terhadap kemaslahatan bangsa.
Para tokoh kepercayaan dan pemerintah menekankan pentingnya pola pengasuhan berbasis keteladanan. Lingkungan pesantren kudu dipastikan bersih dari segala corak kekerasan, perundungan (bullying), pelecehan, maupun tindakan diskriminasi. Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan penguatan sinergi lintas sektoral nan melibatkan pemerintah daerah, Kemenag, MUI, hingga pihak kepolisian. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·