Pemerintah meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA) dengan menargetkan penurunan nomor kekerasan terhadap anak. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, mengatakan penurunan nomor kekerasan menjadi parameter utama keberhasilan program tersebut.
“Angka kekerasan tetap cukup tinggi, sekitar 21 ribuan dan tentu saja parameter kita adalah menurunnya nomor kekerasan. Jadi itu parameter nan paling mudah untuk dilihat,” kata Pratikno dalam agenda Media Gathering: Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak di Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat (4/8).
Menurut Pratikno, Gernas RANA tidak hanya berfokus pada pencegahan kekerasan di lingkungan keluarga, tetapi juga di satuan pendidikan, ruang publik, hingga ruang digital.
“Aman dan nyaman di keluarga, kondusif dan nyaman di satuan pendidikan, kondusif dan nyaman di ruang publik, serta kondusif dan nyaman di ruang digital,” ujar dia.
Pratikno menjelaskan, pemerintah tidak bakal menerbitkan patokan baru untuk menjalankan Gernas RANA. Sebab, beragam patokan mengenai perlindungan anak sudah tersedia sehingga pemerintah bakal mengoptimalkan implementasinya.
“Kita tidak menambah info nan baru. Karena pada prinsipnya substansinya sudah ada. Jadi oleh lantaran itu, kita memanfaatkan forum Senin. Di setiap Senin, Pak Mendagri mengundang kepala wilayah seluruh Indonesia untuk melakukan koordinasi dengan daerah,” jelas Pratikno.
Menurut dia, forum koordinasi tersebut bakal dimanfaatkan pemerintah untuk terus mengingatkan dan membujuk kepala wilayah berperan-serta dalam penyelenggaraan Gernas RANA.
“Jadi kita terus menerus berkomunikasi, mengingatkan, dan membujuk serta partisipasi kepala daerah, terutama melalui forum Senin. Ketika berbincang inflasi, kita sekaligus berbincang hal-hal nan lain, termasuk berbincang mengenai ruang kondusif dan nyaman untuk anak,” papar dia.
Sebelumnya, Pratikno mengatakan Gernas RANA diluncurkan sebagai upaya memperkuat pembangunan manusia melalui penyediaan ruang kondusif dan nyaman bagi anak. Upaya tersebut, menurut Pratikno, perlu dilakukan lantaran kekerasan terhadap anak tidak hanya berakibat pada kondisi fisik, tetapi juga psikis, kognitif, hingga kesehatan mental.
“Jangan boleh ada kekerasan terhadap anak lantaran kekerasan itu punya akibat nan luar biasa, bukan hanya secara fisik, secara psikis, secara kognitif, dan kekerasan bakal melahirkan trauma dan melahirkan kekerasan baru kelak ke depannya,” ucap Pratikno.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·