Pakar Soroti Rencana Konversi LPG 3 Kg ke CNG: Peluang dan Tantangan

Sedang Trending 1 jam yang lalu
 Peluang dan Tantangan Petugas mengisi tabung dengan Compressed Natural Gas (CNG) nan bakal didistribusikan ke pengguna di area Mengwi, Badung, Bali, Jumat (4/11/2022).(ANTARA/Fikri Yusuf)

RENCANA pemerintah untuk mengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram dengan Compressed Natural Gas (CNG) mendapat tanggapan dari pakar. Dosen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Dr. Leopold Oscar Nelwan, menilai agenda tersebut berpotensi besar mendukung ketahanan energi nasional mengingat melimpahnya sumber daya gas alam domestik.

Menurut Leopold, pendapat ini layak dikaji secara mendalam lantaran dapat menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG nan selama ini membebani subsidi negara. Namun, dia menekankan bahwa implementasinya memerlukan kajian menyeluruh dari aspek teknis, ekonomi, hingga keselamatan.

"Pemanfaatan CNG sebagai pengganti LPG secara teknis memungkinkan. Jika gas alam domestik dimanfaatkan optimal, beban subsidi pemerintah berpotensi berkurang," ujar Leopold.

Perbedaan Karakteristik dan Tantangan Infrastruktur

Leopold menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan mendasar antara LPG dan CNG. Perbedaan sifat kimiawi keduanya berimplikasi langsung pada sistem penyimpanan dan pengedaran nan digunakan.

Aspek Perbandingan LPG (Liquefied Petroleum Gas) CNG (Compressed Natural Gas)
Komponen Utama Propana dan Butana Metana
Tekanan Penyimpanan Rendah (Cair pada suhu ruang) Tinggi (200–250 bar)
Massa Jenis Lebih berat dari udara (terakumulasi di bawah) Lebih ringan dari udara (bergerak ke atas)
Kebutuhan Perangkat Tabung dan regulator standar Tabung teknologi tinggi, kompresor, regulator khusus

Karena CNG tidak dapat dicairkan hanya dengan tekanan pada suhu lingkungan, gas ini kudu dikompresi hingga 200–250 bar. Kondisi ini menuntut investasi tambahan pada akomodasi kompresi, tabung khusus, hingga penyesuaian pada kompor rumah tangga.

Menjawab Kekhawatiran Keselamatan

Terkait kekhawatiran masyarakat mengenai tekanan tinggi pada tabung CNG, Leopold menilai perihal tersebut wajar. Namun, dia menegaskan bahwa aspek keselamatan tidak hanya berjuntai pada ketahanan tabung, tetapi juga sistem pengendalian kebocoran.

"Desain tabung, kualitas material, katup, hingga inspeksi berkala kudu memenuhi persyaratan ketat untuk memastikan integritas sistem selama penggunaan," jelasnya.

Ia menambahkan, jika terjadi kebocoran di ruang terbuka, metana pada CNG condong naik ke atas dan terdispersi lantaran lebih ringan dari udara, berbeda dengan LPG nan condong mengendap di bawah.

Catatan Keamanan: Di ruang tertutup dengan ventilasi minim, metana tetap dapat terakumulasi dan membentuk campuran nan mudah terbakar. Oleh lantaran itu, sistem penemuan kebocoran dan ventilasi tetap menjadi syarat mutlak.

Transisi Energi dan Alternatif DME

Dari aspek lingkungan, gas alam menghasilkan emisi karbon nan lebih rendah dibandingkan batu bara dan sedikit di bawah LPG. Leopold memandang CNG bisa menjadi jembatan transisi daya jika penghematan subsidi dialokasikan untuk pengembangan daya terbarukan seperti tenaga surya dan angin.

Meski demikian, dia menyarankan agar pemerintah tidak hanya terpaku pada CNG. Alternatif lain seperti Dimethyl Ether (DME) juga perlu dikaji lantaran mempunyai karakter pengedaran nan lebih mirip dengan LPG, sehingga berpotensi memanfaatkan prasarana nan sudah ada.

"Implementasi sebaiknya dilakukan secara berjenjang di wilayah nan infrastrukturnya mendukung, seperti area dekat sumber gas alias nan sudah mempunyai jaringan gas kota. Uji lapangan dan pertimbangan menyeluruh kudu dilakukan sebelum penerapan diperluas secara nasional," pungkas Leopold. (Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia