Cerita Ibu: Kehilangan Bayi 2 Hari Setelah Lahir, Tak Tahu Janin Kurang Nutrisi

Sedang Trending 54 menit yang lalu
Ilustrasi ibu mengandung sedih. Foto: aslysun/Shuttterstock

Kehilangan anak tentu menjadi pengalaman nan tidak mudah dilupakan seorang ibu. Terlebih ketika waktu berbareng si mini begitu singkat. Hal itu dialami seorang ibu berjulukan Okse Farinanda nan kudu kehilangan anak pertamanya, Sagara Gunadipta. Bayinya lahir pada 15 September 2023 dan meninggal bumi dua hari kemudian, tepatnya pada 17 September 2023.

Okse membagikan kisah pilunya itu melalui akun Threads miliknya @oksefarinandaa_. Kepada kumparanMOM, dia juga mengungkapkan peristiwa nan dialaminya itu.

Rutin Kontrol Kehamilan dan Konsumsi Vitamin

Selama hamil, Okse dan suami rutin melakukan pemeriksaan kehamilan di salah satu master nan lokasinya dekat dengan tempat tinggal mereka di sebuah kabupaten di Lampung. Ia juga rutin mengonsumsi vitamin dan susu untuk ibu hamil.

embed from external kumparan

Namun, sejak awal kehamilan, Okse mengalami sakit gigi nan cukup parah. Karena cemas mengonsumsi obat selama hamil, dia memilih menahan rasa sakit tersebut.

Memasuki usia kehamilan sekitar 7-8 bulan, sakit giginya semakin tidak tertahankan. Saat sedang berada di Bandar Lampung, dia dan suami akhirnya memutuskan memeriksakan kandungannya ke master lain.

“Akhirnya kami memutuskan ke master kandungan di bandar lampung (beda dengan master kami nan biasanya ya). Konon katanya. Dokter ini salah satu master paling bagus di kota ini,” tulis Okse.

Di sana, dia menjalani pemeriksaan USG. Hasil pemeriksaan tersebut membuatnya dan suami terkejut. Dokter menyampaikan bahwa berat janinnya tetap jauh di bawah ukuran nan diharapkan untuk usia kehamilan dan menyebut janin mengalami kekurangan nutrisi.

“Sakit gigiku ilang seketika. Suamiku pucet,” kenangnya.

embed from external kumparan

Ia kemudian diminta mengejar kenaikan berat badan janin dengan memperhatikan asupan makanan, mengonsumsi susu tinggi protein, serta mendapatkan tambahan kalsium.

Sepulang dari dokter, dia mengaku menangis dan bingung. Di satu sisi, rasa sakit pada giginya tetap terasa, sementara di sisi lain dia mulai cemas dengan kondisi janin nan dikandungnya.

Berusaha Mengejar Berat Badan Janin

Selama satu bulan berikutnya, dia dan suami berupaya mengikuti saran nan diberikan. Ia memperbanyak makanan berprotein, mengonsumsi susu, hingga lebih banyak beristirahat.

Ia juga berupaya mengonsumsi es krim sebagai bagian dari upayanya menambah asupan makanan. Bulan berikutnya, dia kembali memeriksakan kandungan. Kali ini, dia memilih master lain untuk mendapatkan opini tambahan.

Hasil pemeriksaan kembali menunjukkan bahwa berat janinnya tetap rendah. Saat itu, dia mulai menyadari bahwa selama kehamilan, aktivitas janinnya memang tidak terlalu sering. Namun, sebagai ibu nan baru pertama kali hamil, dia mengaku belum memahami apakah kondisi tersebut perlu dikhawatirkan.

Ilustrasi Ibu Hamil. Foto: Blue Planet Studio/shutterstock

Ia dan suami kemudian memutuskan mencari pemeriksaan lebih lanjut ke sebuah rumah sakit di Bandar Lampung.

Plasenta Mengalami Pengapuran, Persalinan Harus Segera Dilakukan

Di rumah sakit tersebut, dia berjumpa dengan master nan kemudian menangani persalinannya. Dari pemeriksaan, master menjelaskan bahwa plasentanya mengalami pengapuran dan jumlah air ketubannya sudah sedikit.

“dr. Azman bilang, ketubanku tinggal dikit. Jadi mau tidak mau kudu segera dilahirkan,” ujar Okse.

Menurut penjelasan master nan dia terima, kondisi tersebut dapat menghalang aliran nutrisi dan oksigen dari ibu kepada janin. Saat itu usia kehamilannya sudah memasuki sekitar 36 minggu.

Ilustrasi plasenta alias ari-ari. Foto: Shutterstock

Dokter kemudian menyarankan agar bayi segera dilahirkan. Ia dan suami diberi pilihan metode persalinan, tetapi akhirnya memutuskan menjalani operasi caesar.

Hari itu menjadi semakin berat ketika sang suami nan pulang untuk mengambil perlengkapan persalinan dan perlengkapan bayi mengalami kecelakaan di perjalanan. Beruntung, suaminya tidak mengalami luka serius. Mobil mereka hanya mengalami kerusakan di bagian depan.

“Dijalan dia (suamiku) kecelakaan. Tabrakan beruntun. Mungkin dia juga shock dan khawatir. Ditambah, suamiku ahli filsafat berat orangnya. Aku tambah nangis,” ungkapnya.

Malam sebelum persalinan, family pun mulai berkumpul untuk memberikan dukungan. Sang ibu mengaku diliputi rasa takut dan cemas, tetapi berupaya menyerahkan apa nan bakal terjadi kepada Tuhan.

Sagara Hanya Bersama Ibu Selama Dua Hari

Ilustrasi bayi. Foto: Shutter Stock

Pada 15 September 2023, dia menjalani operasi caesar. Sekitar pukul 09.00 pagi, Sagara Gunadipta lahir dengan berat badan 2,2 kilogram dan panjang 47 sentimeter. Ia tetap mengingat jelas gimana rupa anak pertamanya ketika pertama kali melihatnya.

“Duh masyaAllah, anakku ganteng, bersih, putih. Tapi sayangnya, paru-parunya belum siap,” kenang Okse.

Namun, kebahagiaan itu bercampur dengan kekhawatiran. Sagara lahir pada usia kehamilan 36 minggu dan kondisi paru-parunya belum siap sepenuhnya, sehingga kudu mendapatkan perawatan di NICU dengan support sejumlah alat.

Sebelum masuk ruang operasi, sang suami sempat meminta mereka berpotret untuk menjadi kenang-kenangan. Tak pernah terbayangkan oleh keduanya bahwa foto tersebut kelak menjadi salah satu kenangan nan begitu berharga.

Ilustrasi bayi. Foto: Natalie Zepp Photography/Shutterstock

Sagara hanya memperkuat selama dua hari. Pada 17 September 2023, sang ibu kudu menghadapi kehilangan terbesar dalam hidupnya. Meski waktu berbareng Sagara begitu singkat, dia memilih untuk mengingat kehadiran anak pertamanya sebagai bagian krusial dari perjalanan hidupnya sebagai seorang ibu.

Kisah tersebut juga menjadi pengingat bagi orang tua bahwa pemeriksaan kehamilan, pemantauan pertumbuhan janin, serta komunikasi terbuka dengan tenaga kesehatan merupakan bagian krusial selama kehamilan, Moms.

kumparan post embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan