Ilustrasi(Magnific)
SEBUAH pendekatan baru nan mengejutkan dalam penanganan depresi mulai menunjukkan titik terang. Bukan dengan menyasar bahan kimia otak seperti obat pada umumnya, metode ini bekerja dengan langkah menenangkan sistem kekebalan tubuh.
Melalui uji klinis skala mini nan dipimpin Universitas Bristol dan diterbitkan di jurnal JAMA Psychiatry pada 20 Mei, para peneliti menemukan bahwa obat anti-inflamasi nan biasa digunakan untuk penyakit radang sendi (rheumatoid arthritis) bisa meredakan indikasi pada pasien depresi nan susah disembuhkan. Selain itu, obat ini juga terbukti mengurangi rasa lelah, kecemasan, serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
Peran Peradangan dalam Depresi
Mayoritas obat antidepresan saat ini bekerja dengan menargetkan senyawa kimia otak seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin. Sayangnya, sekitar sepertiga pasien depresi tidak merespons obat-obatan tersebut dengan baik.
Dalam beberapa tahun terakhir, para intelektual mulai konsentrasi pada aspek lain, ialah peradangan (inflammation). Riset menunjukkan satu dari tiga orang penderita depresi mempunyai kadar penanda inflamasi nan tinggi dalam darah mereka. Salah satu protein peradangan nan mencuri perhatian adalah interleukin 6 (IL-6).
Untuk menguji apakah pemblokiran IL-6 dapat meredakan depresi, tim peneliti melakukan uji random terkendali selama empat minggu terhadap 30 partisipan penderita depresi sedang hingga berat nan mempunyai tanda peradangan rendah dalam tes darah mereka. Sebanyak 14 orang menerima obat tocilizumab (obat radang sendi), sementara 16 orang lainnya menerima plasebo air garam.
Meskipun sampel penelitian ini kecil, hasil pencarian menunjukkan bahwa golongan nan menerima tocilizumab mengalami perbaikan nan lebih besar. Tingkat remisi (kesembuhan gejala) mencapai 54% pada golongan tocilizumab, berbanding terbalik dengan golongan plasebo nan hanya berada di nomor 31%.
Menuju Pengobatan nan Personalisasi
Golam Khandakar, Profesor Psikiatri dan Imunologi dari Universitas Bristol sekaligus ketua investigator studi ini, menyebut pencapaian ini sebagai tonggak sejarah penting.
"Pekerjaan ini mewakili tonggak krusial dalam pengembangan perawatan baru untuk depresi, terutama depresi nan susah diobati, nan memengaruhi jutaan orang di Inggris saja," kata Khandakar. "Ini adalah salah satu uji random terkendali pertama nan menguji imunoterapi untuk depresi, nan pertama menguji IL-6R sebagai sasaran pengobatan, dan nan pertama menggunakan pendekatan terarah untuk memilih pasien nan paling mungkin mendapat manfaat, serta menunjukkan bahwa metode ini berhasil."
Dr. Éimear Foley, peneliti utama studi ini, menambahkan bahwa temuan ini membawa bumi medis selangkah lebih dekat pada perawatan kesehatan mental nan berbasis biologi personal.
"Depresi diperkirakan memengaruhi sekitar 10-20% orang di seluruh bumi selama hidup mereka, namun bagi banyak pasien, perawatan saat ini tidak bekerja cukup baik," kata Foley. "Studi kami membawa kita lebih dekat ke perawatan depresi nan lebih disesuaikan, di mana perawatan dipilih agar lebih sesuai dengan biologi seseorang. Ini bakal membantu kita memberikan pengobatan nan tepat kepada pasien nan tepat pada waktu nan tepat."
Salah satu partisipan nan ikut serta dalam penelitian ini juga menyatakan kepuasannya.
"Saya senang bisa ambil bagian. Tanpa penelitian, kemajuan dalam bumi kedokteran tidak dapat dibuat," ujarnya.
Meskipun memberikan angan baru, para peneliti menegaskan bahwa studi dalam skala nan lebih besar tetap sangat dibutuhkan sebelum imunoterapi ini dapat diterapkan sebagai standar pengobatan depresi massal. Langkah selanjutnya nan tengah dipersiapkan adalah uji klinis fase III dengan cakupan nan lebih luas. (Science Daily/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·