Surabaya, CNN Indonesia --
Raut capek dan resah tergambar jelas di wajah Jiono saat duduk bersandar di ruang tunggu Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN) Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Senin (14/9) malam.
Pria asal Sonotengah, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang ini lebih sering menunduk, menatap layar ponselnya, menanti berita dari seberang lautan.
Pikirannya tertuju pada satu nama, Agus Ribut Setyabudi, sang adik kandung nan turut menjadi korban terbaliknya Kapal Motor Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9) awal hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari itu, Jiono dan family sudah menjalani serangkaian prosedur dari tim kepolisian di posko Pelabuhan Tanjung Perak.
Ia menyadari tes tersebut adalah bagian dari prosedur untuk kemungkinan terburuk. Namun dalam hatinya, Jiono menolak menyerah pada takdir.
"Tadi dimintai untuk tes DNA forensik. Itu jika mana ada perihal nan tidak diinginkan, hanya nan kita inginkan semoga adik kita ini kan selamat," kata Jiono.
Waktu terasa melangkah lambat bagi Jiono dan keluarga. Harapan mereka sekarang tertumpu pada proses pemindahan nan sedang berjalan di laut lepas. Berdasarkan info nan dia terima, ada dua armada nan bakal membawa para korban ke daratan malam itu.
"Belum, belum ada berita terbaru. Ini kita tetap nunggu kapal nan evakuasi, KRI Pulofani dan KRI Nala nan rencana sandar di Banjarmasin malam ini," ucapnya.
Agus sendiri bukanlah sosok nan asing dengan kerasnya jalanan dan penyeberangan antar pulau. Pria itu bekerja sebagai pengemudi truk ekspedisi dengan jam terbang nan tinggi.
Jiono bercerita, adiknya sudah sering melintasi pulau hingga berhari-hari, mulai dari Bontang, Makassar, Dompu, hingga 15 hari perjalanan ke Medan, Sumatera Utara.
"Sudah biasa lintas pulau, biasanya ke Bontang, Mas. Naik kapal ke Balikpapan. Kita turun satu minggu sekali, kok. Ini baru kali ini naik kapal [KM Virgo 8] ini. Baru kali ini. Iya, setahu saya baru kali ini. Ini kan kapal baru, baru berapa bulan beraksi ini," ungkap Jiono mengenang pekerjaan adiknya.
Di tengah kekhawatiran nan mendera, pihak family juga dihadapkan pada kebingungan. Komunikasi dengan tempat Agus bekerja, ialah perusahaan ekspedisi ADR, sejauh ini melangkah baik.
Pimpinan perusahaan apalagi sempat menemui Jiono dan mengajaknya makan siang. Namun, perihal serupa belum dirasakan dari PT Virgo Karya Shipping selaku pemilik sekaligus operator KM Virgo Transport 8.
Jiono dan family sangat mau bertolak ke Banjarmasin untuk memastikan langsung kondisi Agus.
Mereka sudah meminta akomodasi keberangkatan kepada pihak PT Virgo Karya Shipping melalui sambungan telepon dengan karyawannya, namun jawaban nan didapat tetap sebatas janji untuk diusahakan.
Kini, Jiono hanya bisa duduk menunggu di Tanjung Perak. Niat hati mau langsung menjemput sang adik di Banjarmasin terpaksa dipendam lantaran realita keterbatasan biaya keluarga.
"Kami minta difasilitasi ke Banjarmasin, tapi belum belum ada berita sampai sekarang. Dia (operator) tadi hanya bilangnya mau diusahakan," ucapnya.
"Iya, kita mau berangkat, saya sendiri mau berangkat ke sana. Satu orang. Mboten mboten memungkinkan untuk biayanya, Mas. Kita terkendala untuk biaya. Kalau semua berangkat ke sana kan berapa juta kita. Sedangkan kita kerjanya hanya sopir," ujar Jiono menambahkan.
Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 dilaporkan lenyap kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9), pukul 02.00 WITA, saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9). KM Virgo mengangkut 243 orang penumpang, awak kapal hingga kru, serta 89 kendaraan.
Dari 243 korban, telah terevakuasi sebanyak 108 korban dalam kondisi selamat dan 6 korban dalam kondisi meninggal dunia, Sementara itu, sebanyak 129 orang lainnya tetap dalam pencarian.
(frd/fra)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·