Jakarta -
Wakil Ketua Baleg DPR RI, Martin Manurung, tak terima atas laporan Tempo mengenai rumor merger NasDem dengan Gerindra. Martin juga menyoroti ilustrasi tentang ketua umumnya, Surya Paloh.
"Apa nan disajikan oleh majalah Tempo, baik pada podcast, tulisan di majalah, hingga cover ilustrasi tentang Partai NasDem dan Ketua Umum Bapak Surya Paloh, merupakan kebebasan nan kebablasan," kata Martin kepada wartawan, Selasa (14/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Martin menyoroti soal kepercayaan publik nan dirusak. Ia menyinggung soal kode etik jurnalistik.
"Media dan pers nan bekerja tidak ahli tentu menjadi perhatian serius, lantaran peran pers sejatinya adalah menyampaikan info nan akurat, berimbang, dan beretika," kata Martin.
"Ketika praktik jurnalistik justru condong menjatuhkan harkat dan martabat seseorang, maka perihal tersebut bukan hanya melanggar kode etik, tetapi juga merusak kepercayaan publik terhadap media itu sendiri. Itulah nan dilakukan oleh majalah Tempo saat ini," tambahnya.
Ia menilai pemberitaan nan disampaikan Tempo mengandung opini. Ia cemas dengan stigma nan bakal terbentuk di publik mengenai itu.
"Pers mempunyai tanggung jawab moral untuk menjaga integritas informasi. Pemberitaan nan tidak terverifikasi, mengandung opini nan menghakimi, alias sengaja menggiring opini publik ke arah tertentu dapat menimbulkan akibat sosial nan luas, termasuk menciptakan stigma, konflik, apalagi ketidakadilan bagi pihak nan diberitakan," ujarnya.
Martin menyinggung peran Dewan Pers dalam pemberitaan tersebut. Ia meminta ada pertimbangan ke depannya.
"Dalam situasi seperti ini, Dewan Pers, sebagai wasit di lapangan jurnalistik, sangat krusial untuk masuk tanpa kudu menunggu adanya pelaporan. Evaluasi dan pengawasan nan lebih ketat terhadap praktik jurnalistik," kata Martin Manurung.
"Dewan redaksi, organisasi pers, serta masyarakat perlu bersama-sama mengingatkan bahwa kebebasan pers kudu melangkah seiring dengan tanggung jawab. Kritik terhadap media nan tidak ahli bukanlah corak pembungkaman, melainkan upaya untuk menjaga marwah pers sebagai pilar demokrasi," tambahnya.
Martin mengaku mengetahui pemikiran dari Ketum Surya Paloh. Ia mengatakan NasDem bakal terus ada sebagai partai politik di Indonesia.
"Saya sebagai salah satu orang nan berbareng Bapak Surya Paloh sejak awal mendirikan NasDem, tentu sangat mengetahui seperti apa jalan pikirannya," ujar Martin.
"Partai ini dijahit dengan semangat nan besar, bukan sebagai pelengkap bilangan partai politik di Indonesia. Partai bisa menginisiasi perkawanan dengan kesamaan pendapat dan NasDem bakal terus ada untuk Indonesia dengan nama Partai NasDem," imbuhnya.
Pernyataan Tempo
Pemimpin Redaksi Tempo, Setri Yasra, menanggapi pernyataan Martin Manurung. Ia menyebut liputan jurnalistik tak otomatis selesai ketika pemberitaan sudah tayang.
"Pelbagai penilaian tentang liputan Tempo tentu menjadi kewenangan semua pihak. Bagi kami, penilaian itu bisa menjadi feedback karena liputan jurnalistik itu tidak otomatis selesai ketika sudah terbit alias tayang. Kami menghormati pelbagai penilaian tersebut," kata Setri saat dimintai konfirmasi.
Ia mengaku sepakat untuk melibatkan Dewan Pers mengenai sengketa pemberitaan. Setri mengatakan hingga sekarang Tempo belum menerima kewenangan jawab hingga koreksi dari pihak terkait.
"Ajakan Dewan Pers untuk mengevaluasi menjadi langkah nan tepat dan sesuai dengan undang-undang. Sengketa pers diselesaikan lewat sistem di Dewan Pers," kata Setri.
"Hak jawab adalah kewenangan siapa saja nan muncul dalam pemberitaan, dan menjadi tanggung jawab media untuk memuatnya. Sejauh ini kami belum menerima kewenangan jawab, juga kewenangan koreksi, dan sekira itu ada pasti bakal kami muat dalam kesempatan pertama," tambahnya.
(dwr/gbr)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·