Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan nilai nafta nan mendorong mahalnya plastik membikin pemerintah mulai melirik minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) sebagai bahan substitusi. Wacana ini dinilai menjanjikan, namun tetap menyisakan sejumlah tantangan, mulai dari kesiapan industri hingga pasokan bahan baku.
Kenaikan nilai minyak mentah bumi akibat bentrok di Timur Tengah telah berakibat pada mahalnya nafta sebagai bahan baku plastik. Imbasnya, nilai plastik ikut terkerek dan berujung pada kenaikan nilai beragam produk bungkusan nan banyak dikonsumsi masyarakat.
Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman menegaskan, kesiapan CPO dalam negeri tetap sangat mencukupi jika digunakan untuk kebutuhan substitusi nafta.
"Kan, ekspor kita 26 juta ton CPO. Sepakat ya? Kita mau ambil 5,3 juta ton untuk menjadikan biofuel, sekarang B40 menuju B50. Kita tarik 5,3 juta ton, rupanya apa nan terjadi? Karena nilai CPO naik, ini sawit dipelihara dengan baik. Pupuknya diperbaiki. Naik berapa? 6 juta ton. 6 juta ton kita belum pakai CPO-nya, sudah naik, ekspor kita jadi 32 juta ton," kata Amran kepada wartawan di kantornya, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, kenaikan nilai CPO justru mendorong peningkatan produksi lantaran petani semakin intensif dalam merawat kebun.
"Ya, nggak masalah (produksi substitusi nafta dari CPO). Bahan baku kita cukup. Lebih dari cukup. Ekspor kita 32 juta ton. Kita tarik mau butuh berapa juta ton (untuk substitusi nafta). Asal ini (harga CPO) naik terus, ini produksinya naik," ujarnya.
Sejalan dengan itu, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyebut kesempatan pemanfaatan CPO sebagai pengganti nafta terbuka, meski tetap dalam tahap kajian.
"Perlu memang diversifikasi pengganti nafta, baik dari gas maupun dari nabati. Mudah-mudahan ini bisa menjadi kesempatan buat CPO misalnya, memberikan CPO nan kita punya banyak sekali di dalam negeri bisa menjadi bahan pengganti nafta. Tapi ini tetap dalam proses kajian semua di masa nan bakal datang, mudah-mudahan itu jadi bahan pengganti nan utama," kata Faisol saat ditemui di Kompleks Parlemen beberapa waktu lalu.
Sebagai catatan, nafta adalah salah satu produk turunan minyak bumi fosil. Mengutip situs resmi Chandra Asri, ada 3 jenis nafta sesuai dengan pemanfaatannya.
Selain untuk pembuatan bahan bakar, nafta digunakan sebagai bahan baku pembuatan butadiena, etilena, dan propilena. nan kemudian diolah lagi untuk pembuatan produk hilir di industri plastik, tekstil, pupuk, cat, juga industri berbasis petrokimia lainnya.
Pengusaha Sawit Kasih Gambaran
Namun, pelaku industri mengingatkan adanya tantangan dari sisi produksi dan biaya. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menilai, penggunaan CPO untuk bio nafta memungkinkan, tetapi secara keekonomian tetap lebih mahal dibandingkan nafta berbasis minyak bumi.
"Minyak sawit bisa menjadi bio nafta, hanya pasti (harga bio nafta) lebih mahal dari nafta nan berasal dari minyak bumi," kata Eddy kepada CNBC Indonesia, Kamis (16/4/2026).
Tak hanya soal biaya nan lebih mahal, dia juga menyoroti potensi keterbatasan pasokan jika kebutuhan CPO bertambah untuk substitusi nafta.
"(Kalau untuk pasokan) saya belum tahu kebutuhan bio nafta nantinya berapa, tapi saat ini produksi kita tetap stagnan, tetap di sekitar 50 jutaan ton, untuk penerapan B50 jika permintaan ekspor naik, kemungkinan kita tidak bisa penuhi. Tapi jika untuk kebutuhan B50 saja cukup," ujarnya.
"Dengan kondisi produksi stagnan memang jika permintaan naik belum tentu dapat dipenuhi," sambung dia.
Menurut Eddy, stagnasi produksi saat ini salah satunya disebabkan oleh lambatnya program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Karenanya, dia mendorong agar PSR melangkah lebih baik ke depannya, agar produktivitas sawit para petani bisa meningkat.
"Saat ini nan menyebabkan produksi stagnan utamanya lantaran Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) nan sangat lambat, dengan melakukan PSR otomatis produktivitas bakal naik," jelas Eddy.
Dengan demikian, rencana menjadikan CPO sebagai substitusi nafta dinilai punya potensi besar untuk menekan ketergantungan impor bahan baku plastik. Namun, realisasinya tetap memerlukan kesiapan dari sisi produksi, efisiensi biaya, dan percepatan peningkatan produktivitas sawit nasional.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·