Muncul Fenomena Aneh di China: Pedagang Menjerit Tapi Industri Cuan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Penjualan ritel di China kian merosot, imbas dari kian melemahnya permintaan domestik. Namun, negeri gorden bambu itu justru sekarang tengah menikmati pertumbuhan ekspor, nan membikin sektor industri justru menikmati cuan tinggi.

Berdasarkan laporan Reuters, kondisi itu membikin perekonomian China sekarang tengah mengalami peningkatan ketimpangan. Penjualan ritel jatuh untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun dan investasi merosot, sementara output industri justru mengalami percepatan.

Kondisi ini pun membikin kejadian pola pertumbuhan dua kecepatan alias two-speed growth muncul di negara dengan perekonomian terbesar kedua di bumi itu. Sektor pabrik terdongkrak oleh keahlian ekspor nan di luar dugaan tangguh, namun permintaan domestik melemah di tengah kelesuan pasar properti nan telah berjalan selama bertahun-tahun.

Data dari Biro Statistik Nasional (NBS) China menunjukkan penjualan ritel, nan menjadi parameter utama konsumsi, merosot 0,6% pada Mei. Angka ini berbalik arah dari kenaikan 0,2% pada April, sekaligus berada di bawah perkiraan 0,0% dalam jajak pendapat Reuters. Ini merupakan penurunan bulanan pertama sejak Desember 2022.

Merosotnya keahlian penjualan ritel nan menandakan perekonomian China tengah rentan itu terlihat dari keahlian sektor otomotif. Penurunan penjualan mobil domestik bersambung selama delapan bulan berturut-turut pada Mei. Menegaskan melonggarnya permintaan di pasar mobil terbesar di bumi tersebut nan berpotensi bersambung hingga akhir tahun.

Pengeluaran visitor selama libur Hari Buruh selama lima hari pada Mei lampau juga tak membikin dorongan pertumbuhan, dan akibat dari program tukar-tambah (trade-in) peralatan konsumen dari pemerintah mulai memudar. Basis komparasi nan tinggi pada Mei tahun lampau juga turut berkontribusi terhadap penurunan ini.

Piala Dunia Tak Jadi Daya Tarik Konsumen

Memudarnya daya konsumsi masyarakat pun dirasakan oleh para pemilik bar, nan biasanya mengalami cuan saat masuknya musim Piala Dunia, seperti nan semestinya terjadi saat ini.

Seorang manajer sebuah bar nan terletak di distrik finansial Shanghai, Jie'ao Feng, mengatakan bahwa bisnisnya terpukul akibat pemangkasan anggaran intermezo perusahaan (corporate entertainment). Ia telah menawarkan paket grup untuk menarik lebih banyak pengunjung, tetapi strategi ini justru menggerus margin keuntungannya.

Menayangkan pertandingan Piala Dunia juga tidak banyak membantu, katanya, lantaran agenda pertandingan nan berjalan larut malam dan awal hari. Alhasil, dia mendapati jumlah pengguna di bulan Juni lebih sedikit dibandingkan bulan Mei-saat penjualannya sempat melonjak berkah libur panjang.

"Konsumen sekarang tidak seimpulsif dulu," ujar Feng.

Zhiwei Zhang, kepala ahli ekonomi di Pinpoint Asset Management, mengatakan lemahnya info penjualan ritel ini memberikan tekanan bagi pemerintah untuk mempertimbangkan langkah-langkah kebijakan guna menstabilkan konsumsi.

"Saya tetap memperkirakan 'penyesuaian' kebijakan bakal dilakukan pada bulan Juli setelah info PDB kuartal kedua dirilis," ujarnya.

Industri China Justru Tengah Nikmati Cuan

Terlepas dari persoalan lemahnya konsumsi dalam negeri, output industri di China justru melonjak 4,5% pada Mei dari tahun sebelumnya, meningkat dari pertumbuhan 4,1% pada April dan melampaui ekspektasi kenaikan sebesar 4,3%.

Lonjakan investasi AI dunia dan permintaan teknologi mengenai telah membantu produsen terbesar di bumi ini mengimbangi akibat ekspor nan sempat dikhawatirkan banyak pihak akibat perang Iran. Output manufaktur teknologi tinggi China sendiri meningkat 15,1% pada bulan Mei.

"Beberapa kesenjangan mencirikan perekonomian pada bulan Mei: kesenjangan antara permintaan domestik dan eksternal, kesenjangan antara industri AI dan industri tradisional, serta kesenjangan antara ritel peralatan dan konsumsi jasa," kata Xu Tianchen, ahli ekonomi senior di Economist Intelligence Unit.

Konsumsi jasa tumbuh 5,4% pada periode Januari-Mei, jauh lebih baik daripada penjualan peralatan dan menjadi penggerak nan berkembang bagi konsumsi rumah tangga. Namun, nomor ini juga melambat dari 5,6% pada empat bulan pertama.

Xu memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua bakal melambat menjadi 4,5% dari 5% pada kuartal pertama.

"Untuk setahun penuh 2026, mencapai sasaran pertumbuhan 4,5-5% tidak bakal sulit, tetapi permintaan domestik nan lemah tetap memerlukan intervensi kebijakan di paruh kedua."

Data investasi juga jauh lebih lemah dari nan diperkirakan. Investasi aset tetap turun 4,1% dalam lima bulan pertama tahun 2026, menyusul penurunan 1,6% pada Januari-April. Para ahli ekonomi sebelumnya memperkirakan penurunan sebesar 2%.

Juru bicara NBS, Fu Linghui, mengatakan penurunan ini sebagian disebabkan oleh suhu tinggi dan hujan lebat di beberapa wilayah, serta masa transisi dari penggerak pertumbuhan lama ke penggerak pertumbuhan baru.

China tetap mempunyai ruang nan luas untuk investasi di masa depan. Urbanisasi baru, revitalisasi pedesaan, pengembangan "kekuatan produktif berbobot baru", serta peningkatan jasa publik semuanya memerlukan dukungan, ujar Fu menambahkan.

Investasi properti memperpanjang penurunannya dalam lima bulan pertama, ambruk 16,2% dibandingkan dengan periode nan sama tahun lalu, setelah sebelumnya turun 13,7% pada Januari hingga April. Penjualan properti dan bangunan baru juga jatuh lebih tajam.

Secara bulanan (month-on-month), nilai rumah baru turun dengan laju nan sedikit lebih sigap pada bulan Mei, meskipun kota-kota besar menunjukkan tanda-tanda stabilisasi nan tetap tentatif.

Data pinjaman rumah tangga nan lemah nan dirilis minggu lampau menunjukkan bahwa masyarakat tetap berhati-hati untuk mengambil pinjaman demi membeli rumah di tengah pertumbuhan pendapatan nan lesu dan ketidakpastian lapangan kerja.

Pasar tenaga kerja juga tetap berada di bawah tekanan dengan sekitar 12,7 million lulusan nan keluar dari sekolah/universitas selama musim panas, sementara ketakutan bakal penggantian posisi oleh AI memicu kekhawatiran para pekerja. Meski demikian, nomor pengangguran nasional berbasis survei sedikit mereda menjadi 5,1% dari 5,2% pada bulan April.

Para ahli ekonomi mengatakan ekspor nan kuat dapat terus menjadi penopang bagi pertumbuhan ekonomi China tahun ini, tetapi surplus perdagangan nan kian melebar berpotensi memicu perselisihan.

"Booming ekspor dapat membantu memitigasi lemahnya permintaan domestik dalam jangka pendek. Namun mengingat ukuran ekonomi China, pertumbuhan ekspor nan kuat kemungkinan bakal memicu ketegangan dengan mitra dagang," kata Zhang dari Pinpoint Asset Management, seraya menambahkan bahwa potensi bentrok perdagangan dengan Eropa adalah akibat nan perlu diwaspadai dalam beberapa bulan ke depan.

(arj/arj)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News