Anak Rantau dan Ketakutan untuk Gagal

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi seorang anak nan terus memikirkan angan orang tuanya nan kudu diwujudkan ( Ilustrasi dibuat oleh AI)

“Bagaimana kuliahnya hari ini? Aman kan?”

Pertanyaan sederhana ini mungkin bakal terdengar biasa bagi sebagian orang. Namun bagi anak rantau, pertanyaan tersebut kadang seperti pengingat, bahwa ada angan besar nan kudu diwujudkan. Begitu pula dengan jawaban “aman”, dibalik jawaban singkat ini tidak sedikit nan sebenarnya sedang berjuang mengadapi tekanan akademik, berupaya selalu hemat, hingga kekhawatiran bakal masa depan. Anak rantau justru lebih takut mengecewakan orang tua daripada mengadapi tantangan akademiknya.

Menjadi anak rantau bukan hanya soal jauh dari rumah, tetapi juga ada tanggung jawab nan kudu selalu dipikul. Banyak anak nan marantau untuk belajar, merasa kudu sukses lantaran orang tua telah mengorbankan banyak perihal demi pendidikan mereka. Mulai dari biaya hidup, duit pendidikan, kebutuhan sehari -hari, hingga angan nan terus dipanjatkan orang tua membikin mereka merasa mempunyai utang kesuksesan nan kudu dibayar. Meski tidak diucapkan secara langsung, ekspetasi semacam ini dapat menjadi beban nan besar.

Kondisi ini tidak lepas dari budaya masyrakat nan sering memandang anak rantau sebagai simbol keberhasilan keluarga. Akibatnya banyak dari anak rantau tumbuh dengan kepercayaan bahwa mereka tidak mempunyai ruang untuk gagal. Mereka memandang bahwa kegagalan bukan tangga menuju kesuksesan, tetapi dianggap sebagai ketidakmampuan memenuhi angan nan telah diberikan.

Perasaaan inilah kemudian melahirkan kekhawatiran bakal kegagalan. Ketika nilai tidak sesuai harapan, susah memahami pelajaran, alias ketika merasa tertinggal dari teman-temannya. Rasa bersalah itu datang mendorong paksa untuk terus belajar dan memilih untuk memendam keresahannya sendiri. Karena, mereka tidak mau menambah beban orang tua, dan mereka cemas tidak bisa memanfaatkan kesempatan nan telah diberikan.

Akibatnya, banyak anak rantau terbiasa menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja meskipun kenyataannya tidak demikian. Mereka tetap terus tersenyum saat menelpon orang tua, tetap aktif di media sosial, dan tetap berupaya terlihat kuat didepan teman-temannya. Padahal tekanan nan terus dipendam dapat berubah menjadi kekhawatiran berkepanjangan, kondisi kesehatan nan menurun, apalagi kehilangan kepercayaan diri.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan anak rantau tidak hanya ditentukan oleh kemampuan, tetapi juga oleh kondisi psikologis nan sehat. Sayangnya aspek ini sering luput dari perhatian. Kita lebih sering membicarakan prestasi mereka daripada beban nan mereka tanggung selama proses mencapainya.

Oleh lantaran itu, krusial untuk memahami bahwa angan family harusnya menjadi support bukan tekanan. Orang tua tentu berambisi nan terbaik bagi anaknya, tetapi angan tersebut perlu disertai pemahaman bahwa keberhasilan tidak bisa digapai dalam waktu nan cepat. Anak juga perlu diberi ruang untuk bertumbuh, belajar, dan mengadapi kegagalan tanpa merasa kehilangan jati dirinya.

Pada akhirnya, menjadi anak rantau bukan hanya mengejar prestasi alias memenuhi ekspetasi. Lebih dari itu, merantau adalah proses belajar menjadi pribadi nan berdikari dan dewasa. Ketika angan family menjadi support bukan menjadi beban, anak rantau bakal mempunyai ruang sehat untuk berkembang dan menemukan jalannya sendiri menuju kesuksesan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan