NASA berbareng Katalyst Space menyiapkan misi robotik LINK untuk menyelamatkan teleskop Swift nan terancam jatuh ke Bumi.(NASA)
SEBUAH misi luar angkasa nan belum pernah dilakukan sebelumnya bakal mencoba menyelamatkan teleskop antariksa milik NASA nan terancam jatuh dan terbakar di atmosfer Bumi. Misi ini bakal memanfaatkan pesawat antariksa robotik untuk menangkap dan mendorong satelit tua tersebut ke orbit nan lebih aman.
Teleskop nan dimaksud adalah Swift Space Observatory, observatorium antariksa NASA nan telah beraksi selama lebih dari dua dasawarsa untuk mempelajari semburan sinar gamma (gamma-ray bursts), salah satu ledakan paling luar biasa di alam semesta.
Seiring bertambahnya usia, orbit Swift terus menurun akibat halangan atmosfer Bumi (atmospheric drag). Jika tidak dilakukan tindakan, NASA memperkirakan satelit tersebut bakal kehilangan ketinggian hingga akhirnya terbakar saat memasuki atmosfer dalam beberapa bulan mendatang.
Untuk mencegah perihal itu, perusahaan rintisan asal Amerika Serikat, Katalyst Space, bekerja sama dengan NASA melalui misi pengamanan senilai US$30 juta alias sekitar Rp490 miliar.
Pesawat Robotik Penyelamat
Katalyst Space mengembangkan wahana robotik berjulukan LINK nan dirancang unik untuk menangkap satelit nan tidak pernah dipersiapkan untuk proses penyelamatan.
Menurut Katalyst Space, pengembangan LINK berjalan sangat cepat. Dalam waktu sekitar 250 hari, tim sukses merancang, membangun, dan menyiapkan wahana tersebut untuk peluncuran.
“Ini merupakan misi bersejarah. Sebuah pesawat antariksa robotik nan bisa menangkap satelit nan tidak dirancang untuk ditangkap sebelumnya,” ujar Robert Lamontagne, Vice President Strategic Partnerships Katalyst Space.
LINK mempunyai berat sekitar 424 kilogram dan bakal diluncurkan menggunakan roket Pegasus XL milik Northrop Grumman. Roket tersebut bakal dilepas dari pesawat pembawa Lockheed L-1011 TriStar nan lepas landas dari Atol Kwajalein di Samudra Pasifik.
Setelah mencapai orbit, LINK diperkirakan memerlukan waktu sekitar tiga minggu untuk mendekati dan menangkap Swift nan sekarang telah berumur 22 tahun.
Menambah Umur Satelit hingga 10 Tahun
Apabila proses penangkapan berhasil, LINK bakal menggunakan pendorongnya selama dua hingga tiga bulan untuk meningkatkan orbit Swift ke ketinggian nan lebih stabil.
Setelah tugasnya selesai, kedua wahana bakal berpisah. LINK kemudian bakal menurunkan orbitnya sendiri hingga terbakar di atmosfer Bumi, sehingga tidak menambah jumlah sampah antariksa nan sudah memenuhi orbit rendah Bumi.
NASA berambisi manuver tersebut dapat memperpanjang masa operasional Swift hingga 10 tahun lagi.
Saat ini sebagian besar aktivitas ilmiah teleskop tersebut telah dikurangi untuk mengurangi halangan atmosfer dan memperlambat penurunan orbitnya.
“Tak seorang pun mengira ini mungkin dilakukan. Bahkan sampai sejauh ini saja sudah merupakan pencapaian luar biasa,” kata Shawn Domagal-Goldman, Direktur Divisi Astrofisika NASA.
Balapan Melawan Waktu
Misi pengamanan ini menghadapi pemisah waktu nan cukup ketat. Menurut NASA, Swift saat ini kehilangan ketinggian sekitar delapan kilometer setiap bulan.
Jika ketinggian orbitnya turun di bawah 300 kilometer, nan diperkirakan terjadi sekitar Oktober 2026, misi pengamanan kemungkinan tidak lagi dapat dilakukan.
Selain aspek waktu, beragam tantangan teknis juga mengintai. Swift tidak pernah dirancang untuk ditangkap oleh pesawat lain, sehingga proses rendezvous dan penangkapan menjadi operasi nan sangat kompleks.
Cuaca antariksa dan aktivitas Matahari juga dapat memengaruhi keberhasilan misi. Peningkatan aktivitas Matahari dapat membikin atmosfer Bumi mengembang dan meningkatkan halangan nan dialami satelit.
Bisa Jadi Masa Depan Industri Satelit
Jika berhasil, misi ini dapat menjadi cetak biru baru bagi industri antariksa dalam merawat satelit nan menua. Selama ini sebagian besar satelit nan kehabisan bahan bakar alias kehilangan orbit dibiarkan menjadi sampah antariksa alias sengaja diarahkan untuk terbakar di atmosfer.
Katalyst Space membayangkan masa depan di mana armada pesawat robotik dapat memperbaiki, mengisi ulang bahan bakar, meningkatkan kemampuan, hingga memperpanjang umur satelit nan tetap berfungsi.
“Kami mau mengakhiri model sekali pakai di industri satelit dan menggantinya dengan pendekatan nan memungkinkan satelit dirawat serta ditingkatkan setelah diluncurkan,” kata Lamontagne.
Teleskop Veteran nan Masih Sangat Dibutuhkan
Swift diluncurkan NASA pada 2004 dengan masa operasional nan awalnya hanya dirancang selama dua tahun. Namun, teleskop tersebut sukses memperkuat lebih dari 20 tahun dan tetap menjadi salah satu instrumen krusial bagi organisasi astronomi.
Observatorium ini dilengkapi tiga teleskop multi-panjang gelombang nan bisa mengawasi sinar tampak, ultraviolet, sinar-X, hingga sinar gamma. Selain mempelajari semburan sinar gamma, Swift juga digunakan untuk mengawasi lubang hitam, komet, bintang, dan beragam objek kosmik lainnya.
Menurut NASA, sepanjang tahun lampau Swift menerima rata-rata lima permintaan observasi baru setiap hari dari organisasi ilmiah, menjadikannya salah satu akomodasi observasi antariksa paling aktif nan tetap beroperasi.
Karena itulah, keberhasilan misi LINK tidak hanya berfaedah menyelamatkan sebuah satelit tua, tetapi juga mempertahankan salah satu "responden pertama" NASA dalam mengawasi beragam kejadian luar angkasa nan muncul secara tiba-tiba. (ABC News/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·