Merger KAI & INKA Rampung Tahun Ini!

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Merger PT Industri Kereta Api (Persero) alias INKA dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) alias KAI bakal rampung tahun ini. Kepastian itu disampaikan oleh Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin.

Bobby mengatakan, merger merupakan pengarahan langsung dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Pemerintah memang berupaya merampingkan jumlah BUMN dengan argumen efisiensi dan efektivitas, salah satunya melalui proses merger.

"Oh iya itu pengarahan Danantara. Iya, pokoknya (rampung) tahun ini," ujar Bobby saat ditemui usai rapat dengan Komisi VI di DPR RI, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah merger, KAI bakal berkedudukan sebagai holding alias perusahaan induk. Sementara INKA menjadi sub holding.

"Holding, kita holding. INKA jadi sub holding," tuturnya.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI Rizal Bawazier mengaku setuju dengan rencana penggabungan KAI dan INKA. Menurutnya poses tanda tangan akuisisi bakal dilakukan bulan November.

"Saya secara pribadi dan fraksi juga mungkin setuju, di sini ada surat dari BP BUMN, di mana ada rencana integrasi KAI sama INKA, ini sangat bagus. Dan rencananya bakal ada tanda tangan di November, tanda tangan akuisisi INKA di November," sebut Rizal saat rapat dengan Bobby.

Ia berambisi integrasi ini dapat mengurangi jumlah impor dari KAI dan mengalihkannya ke INKA. Rizal beranggapan INKA dapat dimanfaatkan untuk memproduksi kebutuhan operasional KAI.

"Karena jika kita lihat di sini memang tetap banyak terus terang kereta-kereta nan diimpor, sayang sekali pemanfaatan INKA ini semestinya bisa dimanfaatkan untuk memproduksi nan dibutuhkan oleh KAI. Sayang sekali jika kudu terus impor dari Jepang alias China. Ini nan saya pikir Danantara mau, di mana memanfaatkan INKA sebaik-baiknya," bebernya.

Rizal juga berambisi INKA dan KAI bisa saling membantu memenuhi kebutuhan satu sama lain. Ia menyarankan KAI menahan investasi nan dinilai belum diperlukan dan mengalihkannya ke INKA.

"(INKA) jika ada masalah minta support ke KAI. Investasi-investasi KAI nan belum perlu mendingan buat dukung INKA. Jangan kita terlalu banyak impor lagi," tutup Rizal.

(acd/acd)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance