Jakarta - Persahabatan dua negara bisa diawali dengan pemahaman antar budaya nan dimiliki keduanya. Jika itu dilakukan sejak usia dini, persahabatan itu diyakini bukan hanya bakal awet, tapi kian kokoh.
Itulah nan sedang dilakukan anak-anak sekolah dasar di SD Bertram nan terletak di sisi selatan Perth, Australia Barat. Berjarak sekitar 35 menit berkendara dari pusat kota Perth, di sekolah ini siswa-siswa diberi mata pelajaran bahasa Indonesia.
Rombongan penyunting dari Indonesia, nan tengah mengikuti rangkaian program kunjungan Australia-Indonesia Senior Editors, menyaksikan langsung siswa-siswa Bertram fasih melafalkan hitungan satu sampai 10 dalam bahasa Indonesia. Mereka juga bisa menyapa kami dengan sapaan-sapaan seperti selamat pagi, selamat datang, hingga apa kabar.
"I also know couple of words, like api, angin, baik-baik saja," kata salah seorang siswa, Mia.
Program kunjungan Australia-Indonesia Senior Editors Foto: Fajar/detikcom
Guru Bahasa Indonesia di SD Bertram, Vincent Sweetman, mengaku mempunyai ikatan kuat dengan Indonesia. Vincent mengatakan dia tidak hanya mengajarkan bahasa Indonesia namun juga budayanya.
Vincent telah mengajar bahasa Indonesia di SD Bertram selama empat tahun terakhir. Sebelum itu, dia pernah menghabiskan waktu lebih dari empat tahun mengajar di beragam sekolah di Jakarta.
"Di masa depan pemahaman para siswa bakal Indonesia, dan begitu juga sebaliknya, bakal semakin mempererat persahabatan antara mereka," ujar Vincent.
Ia menegaskan penguasaan bahasa asing sangat krusial untuk mengasah keahlian berpikir kritis. Selain itu, keahlian berkata asing juga dapat mencetak siswa menjadi penduduk bumi nan menghargai keberagaman.
"Di tingkat sekolah dasar, mengajar bahasa Indonesia memungkinkan siswa tidak sekadar menghafal kosakata dan komunikasi dasar, tetapi juga mengembangkan apresiasi terhadap kekayaan budaya dan sejarah Indonesia. Hal ini menumbuhkan rasa hormat dan ikatan kedekatan nan tulus sejak dini," jelas Vincent.
Program kunjungan Australia-Indonesia Senior Editors Foto: Fajar/detikcom
Lebih lanjut, dia membeberkan tiga argumen utama kenapa sekolah-sekolah di Australia Barat menjadikan bahasa Indonesia sebagai konsentrasi utama.
Pertama, aspek pengetahuan permukaan bumi dan pariwisata. Lokasi Perth di pesisir barat Australia dinilai membikin akses perjalanan ke Indonesia, khususnya Bali, sangat sigap dan terkenal di kalangan family setempat. Hal ini membikin bahasa Indonesia terasa dekat dan berarti bagi para siswa.
Kedua, aspek kemitraan ekonomi. Indonesia dipandang sebagai kekuatan ekonomi regional nan sedang tumbuh pesat. Karena itu, kemahiran berkata Indonesia dinilai dapat membuka kesempatan masa depan di beragam bagian seperti pendidikan, diplomasi, hingga bisnis.
Ketiga, kemudahan belajar. Bahasa Indonesia menggunakan huruf Latin, sehingga proses membaca dan menulis menjadi jauh lebih mudah diakses. Hal ini sangat membantu meningkatkan kepercayaan diri anak-anak saat belajar.
Belajar Bahasa hingga Peduli Iklim
Adapun corak kerjasama nan dilakukan para siswa dan pembimbing dari dua negara untuk merawat persahabatan Indonesia dan Australia sangat beragam. Salah satunya aktivitas kunjungan rutin lintas negara nan dilakukan para guru.
Mulai dari lawatan pihak sekolah mitra ke Australia pada 2023. Kemudian disusul kunjungan jawaban dari pihak Bertram ke Bandung pada 2024 untuk membahas pendidikan inklusif, hingga studi banding pada 2025 lalu.
Program kunjungan Australia-Indonesia Senior Editors ke SD Bertram (Foto: Fajar/detikcom)
Selain itu, bahasa dan budaya Indonesia telah melebur menjadi bagian dari identitas SD Bertram. Anak-anak di Australia ikut merayakan Hari Kemerdekaan RI, belajar memasak hidangan Nusantara, hingga menggelar Malam Apresiasi Budaya.
Untuk periode 2026-2027, persahabatan ini dirancang makin lengket melalui enam tindakan nyata nan dimotori oleh para siswa, yaitu:
1. Video Perkenalan Bilingual
Meracik konten dalam bahasa Inggris dan Indonesia nan mengangkat cerita pribadi, rumor inklusi sosial, hingga krisis iklim.
2. Unjuk Gigi Permainan Tradisional
Memperkenalkan permainan terkenal dari masing-masing negara melalui rekaman video pendek.
3. Aksi Lingkungan
Siswa di kedua negara bakal mengumpulkan, memilah sampah, membandingkan info grafiknya, dan membikin poster daur ulang bersama.
4. Kirim Simbol Persahabatan
Saling berganti karya seni buatan tangan sebagai tanda kolaborasi.
5. Kunjungan Guru Berlanjut
Pertukaran pengajar dari Bertram ke Bandung untuk berbagi wawasan soal inklusi melalui olahraga.
6. Praktik Lintas Budaya
Bermain dan merekam keseruan mempraktikkan permainan tradisional nan sudah diajarkan oleh sekolah mitra.
Berbagai kerjasama inspiratif ini bisa terwujud berkah inisiatif Kemitraan Sekolah BRIDGE (Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing Engagement). Program ini merupakan inisiatif Pemerintah Australia melalui Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) berbareng Asialink Education sejak 2008.
Sampai saat ini, program BRIDGE sudah menghubungkan lebih dari 250 pasang sekolah di Indonesia dan Australia. SD Bertram sendiri berkolaborasi dengan SDN 023 Pajagalan di Kota Bandung. Pertemanan kedua sekolah ini juga terbilang awet lantaran sudah melangkah lebih dari 10 tahun.
Bagi Vincent, kerjasama langsung semacam ini sangat membantu pembimbing dan murid. Sebab, belajar bahasa asing di sekolah punya tantangan tersendiri.
Anak-anak SD biasanya hanya punya jam pelajaran sekitar 40 sampai 70 menit seminggu. Kesempatan untuk praktik bahasa Indonesia di luar kelas juga sangat minim.
Karena itu, program kerjasama bareng SDN 023 Pajagalan ini betul-betul jadi solusi nyata. Apalagi, inisiatif ini juga mendapat support penuh dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) serta beragam tokoh masyarakat setempat.
"Kemitraan ini menyediakan wadah pertukaran budaya nan autentik. Secara pribadi, saya merasa sangat terhormat dan berterima kasih bisa bekerja sama dengan rekan-rekan pengajar dari Indonesia untuk memperkenalkan keajaiban budaya dan sejarah Indonesia, sebuah negara nan begitu dekat di hati saya," ungkap Vincent bangga.
Aktivitas di SD Bertram ini hanyalah sebagian gambaran dari jaring kerja sama nan luas. Dari ruang-ruang kelas di Bertram, bibit pemahaman lintas budaya itu terus disemai. Kelak, saat anak-anak ini tumbuh dewasa, mereka tak lagi memandang lautan sebagai pemisah, melainkan sebuah jalan penghubung untuk kerja sama dua negara tetangga nan lebih erat. (fjp/knv)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·