Ada anak-anak nan tumbuh dengan kepercayaan bahwa rumah adalah tempat paling kondusif untuk pulang. Namun bagi sebagian lainnya, rumah justru menjadi tempat pertama mereka belajar tentang perbandingan, penolakan, dan rasa tidak pernah cukup.
Dalam family nan tidak sehat secara emosional, ketidakadilan tidak selalu datang dalam corak bentakan alias kekerasan. Kadang dia datang dalam hal-hal mini nan terus berulang: satu anak lebih sering dimarahi, sementara nan lain lebih mudah dimaafkan; satu anak dituntut untuk selalu mengerti keadaan keluarga, sementara nan lain boleh dimengerti.
Yang satu belajar menjadi kuat. nan lain belajar bahwa dirinya selalu istimewa.
Dalam ilmu jiwa keluarga, kondisi seperti ini dapat dikaitkan dengan parental differential treatment, ialah perlakuan orang tua nan berbeda terhadap anak-anaknya. Perbedaan perlakuan tidak otomatis berfaedah favoritisme. Namun ketika terus dirasakan tidak adil, dampaknya dapat memengaruhi nilai diri, hubungan antarsaudara, apalagi langkah seorang anak memandang dirinya hingga dewasa.
Fenomena Scapegoat
Dalam Family Systems Theory, Murray Bowen menjelaskan bahwa family merupakan sebuah sistem nan saling memengaruhi. Ketika kekhawatiran dalam family meningkat, ketegangan tersebut dapat “dialihkan” kepada personil tertentu.
Dalam bahasa populer, anak nan sering menjadi sasaran kesalahan disebut scapegoat atau kambing hitam.
Menariknya, anak nan berada dalam posisi ini tidak selalu merupakan anak nan paling bermasalah. Kadang justru dia adalah anak nan paling sensitif, mandiri, vokal, alias berani mempertanyakan sesuatu nan dianggap tidak adil.
Di sisi lain, ada anak nan lebih sering mendapatkan perlindungan, toleransi, alias pujian. Dalam budaya populer, posisi ini kerap disebut golden child.
Akibatnya, anak-anak dapat tumbuh dengan pesan nan berbeda tentang nilai dirinya. Ada nan merasa kudu berprestasi agar layak dihargai. Ada pula nan terbiasa menerima penghargaan tanpa kudu berupaya terlalu keras.
Luka tidak selalu berbentuk bentakan
Seorang anak tidak selalu terluka lantaran dimarahi. Kadang luka justru tumbuh dari sesuatu nan lebih sunyi: upaya nan tidak pernah dianggap, emosi nan selalu dikecilkan, alias kasih sayang nan terasa kudu diperjuangkan.
“Kenapa Anda tidak seperti saudaramu?”
Kalimat sederhana dapat menjadi sangat berat ketika didengar berulang kali.
Lalu anak mulai bertanya dalam diam: Apa nan salah denganku? Mengapa saya kudu berupaya lebih keras untuk mendapatkan sesuatu nan diberikan begitu mudah kepada orang lain?
Di sinilah pemikiran Lindsay C. Gibson dalam Adult Children of Emotionally Immature Parents menjadi relevan. Gibson menjelaskan bahwa orang tua nan secara emosional tidak matang dapat kandas mengenali kebutuhan emosional anak lantaran terlalu berpusat pada kebutuhan dan persoalan dirinya sendiri. Akibatnya, anak dapat mengalami emotional loneliness lantaran tidak mendapatkan cukup empati dan koneksi.
Gibson menulis bahwa “emotional neglect in childhood leads to a painful emotional loneliness”.
Yang menarik, pengalaman itu tidak selalu membikin seseorang menjadi rapuh. Sebaliknya, banyak anak justru tumbuh menjadi sangat mandiri, bertanggung jawab, dan terbiasa mengurus segala sesuatu sendiri.
Tetapi ada nilai nan kadang tidak terlihat: mereka menjadi terlalu terbiasa mengerti orang lain dan lupa bahwa dirinya juga boleh dimengerti.
Ketika pengorbanan menjadi langkah mencari cinta
Anak nan lama hidup dalam kondisi seperti ini dapat tumbuh menjadi orang dewasa nan susah berbicara tidak, merasa bersalah ketika memprioritaskan diri sendiri, alias terus berupaya membuktikan bahwa dirinya layak dihargai.
Padahal, ada satu realita nan krusial dipahami:
Seorang anak tidak bertanggung jawab memperbaiki keterbatasan emosional orang tuanya.
Sebesar apa pun pengorbanannya, dia tidak bakal bisa mengisi ruang emosional nan memang tidak tersedia.
Menyadari perihal itu bukan berfaedah membenci orang tua. Justru sebaliknya, pemahaman dapat membantu seseorang memandang masa lampau dengan lebih jernih: mungkin orang tua memang mempunyai keterbatasan nan tidak pernah mereka sadari.
Dan memahami bukan berfaedah membenarkan.
Luka tidak kudu menjadi warisan
Masa mini memang dapat meninggalkan jejak. Namun jejak bukan berfaedah takdir.
Memutus rantai luka antargenerasi dimulai ketika seseorang berani bertanya: Apa nan dulu menyakitiku dan tidak mau kulakukan kepada anakku?
Orang tua nan dulu sering membandingkan dapat memilih untuk memandang setiap anak sebagai pribadi nan berbeda.
Mereka nan dulu tidak didengarkan dapat belajar mendengarkan.
Mereka nan dulu merasa hanya berbobot ketika sukses dapat mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa cinta tidak kudu dibayar dengan pencapaian.
Inilah corak intentional parenting: mengasuh dengan kesadaran, bukan sekadar mengulang pola nan pernah diterima.
Pada akhirnya, berbaikan dengan masa lampau bukan berfaedah menghapusnya. Kita mungkin tidak bisa memilih family tempat kita dilahirkan. Kita juga tidak bisa kembali ke masa mini untuk mendapatkan hal-hal nan dulu tidak diberikan.
Tetapi kita tetap bisa memilih apa nan bakal kita lakukan terhadap luka itu.
Luka nan tidak disadari dapat diwariskan. Luka nan dipahami dapat dihentikan.
Barangkali kesembuhan bukan ketika masa lampau sama sekali tidak lagi menyakitkan. Barangkali kesembuhan adalah ketika rasa sakit itu tidak lagi menentukan gimana kita memperlakukan orang-orang nan kita cintai.
Sebab kita tidak kudu mempunyai masa mini nan sempurna untuk membangun rumah nan hangat.
Kita hanya perlu cukup berani untuk tidak menjadikan luka sebagai warisan.
15 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·