Para peneliti nan dipimpin Universitas Iowa telah mendeskripsikan dan menamai jenis buaya baru nan pernah berkeliaran di suatu wilayah di Afrika lebih dari 3 juta tahun nan lalu. Spesies ini dinamai Pemburu Lucy, lantaran hidup berdampingan dengan Lucy(Tyler Stone, Universitas Iowa)
SEBUAH tim peneliti nan dipimpin University of Iowa sukses mengidentifikasi jenis buaya purba baru nan hidup lebih dari 3 juta tahun lampau di Ethiopia. Predator raksasa nan dijuluki "Pemburu Lucy" ini diyakini sebagai hewan paling rawan di ekosistemnya dan kemungkinan besar kerap memburu nenek moyang awal manusia.
Dalam studi nan diterbitkan di Journal of Systematic Palaeontology, reptil tersebut secara resmi diberi nama Crocodylus lucivenator, nan berfaedah "pemburu Lucy". Nama ini merujuk pada kebenaran bahwa buaya tersebut hidup di wilayah dan periode nan sama dengan fosil hominin terkenal, Lucy (Australopithecus afarensis), antara 3,4 hingga 3 juta tahun lalu.
Crocodylus lucivenator mempunyai ukuran nan sangat mengesankan, dengan panjang sekitar 12 hingga 15 kaki (3,6 hingga 4,5 meter) dan berat antara 600 hingga 1.300 pon (270 hingga 590 kg). Hewan ini diduga merupakan predator pengintai nan berlindung di perairan lanskap Hadar untuk menyergap mangsanya.
"Itu adalah predator terbesar di ekosistem tersebut, melampaui singa dan hering, dan ancaman terbesar bagi nenek moyang kita nan hidup di sana pada masa itu," kata Christopher Brochu, guru besar di Departemen Ilmu Bumi dan Lingkungan di Iowa sekaligus penulis koresponden studi tersebut.
"Hampir dapat dipastikan buaya ini bakal memburu jenis Lucy. Apakah buaya tertentu mencoba menangkap Lucy, kita tidak bakal pernah tahu, tetapi dia bakal memandang jenis Lucy dan berpikir, 'Makan malam,'" tambah Brochu.
Secara fisik, buaya purba ini mempunyai karakter berupa punuk menonjol di tengah moncongnya, nan diduga berfaedah untuk menarik perhatian betina saat musim kawin. Spesies ini juga mempunyai moncong nan lebih memanjang dibandingkan buaya lain pada masanya.
"Saya langsung tercengang lantaran hewan ini mempunyai kombinasi karakter nan sangat aneh," kenang Brochu saat pertama kali meneliti spesimen tersebut di Addis Ababa pada 2016.
Untuk mengidentifikasi jenis baru ini, para peneliti menganalisis 121 fosil nan terdiri dari tengkorak, gigi, dan bagian rahang nan ditemukan di Formasi Hadar. Salah satu spesimen apalagi menunjukkan bukti luka nan sebagian telah sembuh pada rahangnya, mengindikasikan adanya pertarungan antar-buaya.
"Catatan fosil menyimpan cedera serupa pada golongan nan telah punah juga, jadi perilaku menggigit wajah seperti ini dapat ditemukan di seluruh silsilah family buaya," kata Stephanie Drumheller, guru besar pengajar di University of Tennessee. "Kita tidak bisa tahu petarung mana nan unggul dalam pertarungan itu, tetapi pengobatan itu memberi tahu kita bahwa, menang alias kalah, hewan ini selamat dari pertemuan tersebut." (Science Daily/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·