Ilustrasi(Magnific.com)
MUNCULNYA pembahasan Hantavirus di media sosial belakangan ini memunculkan kekhawatiran publik. Banyak masyarakat mulai membandingkannya dengan Covid-19 nan sebelumnya menyebabkan pandemi global. Namun, mahir epidemiologi menegaskan bahwa karakter Hantavirus sangat berbeda sehingga potensi penyebarannya tidak sama dengan virus Corona.
Spesialis Ahli Epidemiologi sekaligus Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Minsarnawati mengatakan bahwa masyarakat sebaiknya tetap waspada tanpa kudu merasa panik berlebihan.
"Kalau Covid itu penularannya langsung dari manusia ke manusia. Sementara Hantavirus perantaranya adalah hewan pengerat seperti tikus dan celurut," kata Minsarnawati dalam keterangannya, Sabtu (13/6).
Ia menjelaskan, perbedaan pola penularan tersebut membikin Hantavirus tidak mudah menyebar secara sigap seperti Covid-19. Virus Corona diketahui dapat beranjak antarmanusia melalui percikan saluran pernapasan, sedangkan Hantavirus umumnya menular melalui paparan hewan pengerat nan terinfeksi.
Menurutnya, penularan dapat terjadi ketika seseorang bergesekan dengan urin, air liur, kotoran, maupun debu nan telah terkontaminasi tikus alias hewan pengerat lainnya. Karena berasal dari hewan, penyakit ini termasuk dalam kategori zoonosis.
"Kalau Corona kan dari manusia ke manusia melalui saluran pernafasan, sementara Hantavirus selama ini nan terjadi tetap sebatas antarhewan, kemudian menular ke manusia," ujarnya.
Minsarnawati menilai kekhawatiran masyarakat terhadap virus baru tidak lepas dari pengalaman panjang selama pandemi Covid-19. Trauma kolektif nan tetap tersisa membikin info mengenai penyakit menular baru mudah memicu kekhawatiran publik, meski setiap virus mempunyai tingkat akibat dan pola penyebaran nan berbeda.
Berdasarkan info Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, kasus Hantavirus telah ditemukan di beragam wilayah dunia, termasuk Amerika, Asia, Eropa, hingga Afrika. Indonesia sendiri pernah mencatat kasus Hantavirus, namun jenis nan ditemukan berbeda dengan jenis nan mempunyai tingkat kematian tinggi di area Amerika.
Secara medis, Hantavirus terbagi menjadi dua jenis utama, ialah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). HFRS merupakan jenis nan menyerang ginjal dan banyak ditemukan di Asia serta Eropa, termasuk nan pernah terdeteksi di Indonesia. Sementara HPS menyerang paru-paru dan lebih banyak ditemukan di area Amerika dengan tingkat kematian nan lebih tinggi.
Belum lama ini, publik juga sempat dihebohkan oleh berita seorang penduduk negara Indonesia nan berada dalam satu kapal pesiar dengan penumpang nan terkonfirmasi Hantavirus. Namun setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, penduduk tersebut dinyatakan negatif terinfeksi.
Minsarnawati menambahkan, kondisi daya tahan tubuh menjadi aspek krusial nan menentukan tingkat kerentanan seseorang terhadap penyakit. Dalam epidemiologi, kondisi tersebut dikenal sebagai susceptible host.
"Bisa jadi kita sama-sama kontak dengan kotoran tikus, tetapi mungkin saya nan terkena, sementara nan lain tidak lantaran daya tahan tubuhnya lebih kuat," ungkapnya.
Ia menyebut sejumlah golongan mempunyai akibat paparan lebih tinggi, di antaranya petugas kebersihan, pengelola sampah, petani, hingga petugas laboratorium hewan nan sering berinteraksi dengan lingkungan berpotensi terkontaminasi hewan pengerat.
Karena itu, dia menekankan pentingnya langkah pencegahan melalui kebersihan lingkungan dan perlindungan diri saat membersihkan area kotor.
"Kuncinya adalah menjaga kebersihan lingkungan kita. Tikus itu suka pada lingkungan nan kotor," tegasnya.
Selain menjaga kebersihan, masyarakat juga dianjurkan meningkatkan daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat seperti mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, rehat cukup, dan menghindari kebiasaan begadang.
Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke akomodasi kesehatan andaikan mengalami indikasi seperti demam tinggi, sakit kepala, lemas, mual, diare, alias mempunyai riwayat kontak dengan tikus maupun lingkungan nan berpotensi tercemar.
Di tengah derasnya info di media sosial, kewaspadaan dinilai penting. Namun, masyarakat diminta tidak mudah terjebak kepanikan. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan tetap menjadi langkah utama dalam mencegah beragam penyakit menular. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·