Raiza Khan(DOK PRIBADI)
Pernahkah kita membuka aplikasi media sosial hanya untuk beberapa menit, tetapi tanpa disadari telah menghabiskan waktu berjam jam?
Fenomena ini sering sekali terjadi di kalangan muda. Kehadiran ponsel pintar, platfrom media sosial, dan beragam aplikasi digital telah menjadi layer sebagai komponen nan susah untuk di pisahkan dari kehidupan sehari hari. Dari belajar, bekerja, mencari hiburan, hingga berkomunikasi, semua aktivitas sekarang dapat dilakukan melalui satu perangkat di tangan kita.
Data menunjukan bahwa penduduk negara indonesia dalam kategori pengguna internet dan media sosial nan aktif. Namun, tingginya tingkat penggunaan teknologi juga menimbulkan pertanyaan baru: kenapa generasi muda semakin kesulitan untuk jauh dari layar?
Salah satu alasannya adalah kreasi dari platform digital nan memang dibuat untuk menarik perhatian penggunanya selama mungkin. Fitur seperti scroll tanpa batas, notifikasi langsung, dan algoritma nan menampilkan konten sesuai preferensi membikin pengguna terus mau membuka aplikasi. Setiap kali menemukan konten nan menarik, otak kita mendapatkan rangsangan nan hasilnya memicu rasa puas, sehingga muncul dorongan untuk terus menggulir layar.
Di samping aspek teknis, ada juga aspek sosial. Media sosial telah berfaedah sebagai tempat utama bagi anak muda untuk mengembangkan identitas, mencari informasi, dan berinteraksi dengan orang di sekitar. Banyak nan merasa takut ketinggalan buletin alias tren terbaru jika tidak aktif di ranah digital. Fenomena ini dikenal dengan istilah fear of missing out (FOMO), ialah emosi cemas saat merasa tertinggal dari aktivitas orang lain.
Ironisnya, semakin terhubung secara digital sebenarnya tidak selalu berfaedah semakin dekat dalam hubungan sosial. Berbagai studi menunjukkan bahwa penggunaan media sosial nan berlebihan dapat mempengaruhi kualitas hubungan langsung, konsentrasi, dan kesehatan mental. Banyak anak muda mempunyai ratusan kawan di media sosial, tetapi tetap merasakan kesenyapan di bumi nyata.
Kondisi ini tidak berfaedah bahwa teknologi kudu dihindari. Teknologi telah memberikan banyak untung dalam bagian pendidikan, komunikasi, dan akses terhadap informasi. Akan tetapi, penggunaan nan tidak teratur dapat menyebabkan ketergantungan nan berakibat pada keseimbangan hidup individu.
Oleh lantaran itu, literasi digital semestinya tidak hanya berasosiasi dengan keahlian menggunakan teknologi, tetapi juga dengan keahlian untuk mengontrol penggunaan teknologi tersebut. Generasi muda kudu menyadari bahwa perhatian adalah aset nan sangat berharga. Kemampuan untuk sesekali menjauh dari layar, menjalin hubungan langsung, dan mengatur waktu penggunaan media digital menjadi keahlian esensial di era modern.
Pada akhirnya, tantangan terbesar nan dihadapi oleh generasi muda saat ini bukanlah gimana memperoleh akses ke teknologi, tetapi gimana tetap menjadi pengendali teknologi alih-alih dikendalikan olehnya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·