Menelusuri Jejak Satu Abad Jam Gadang, Sang Penjaga Waktu dari Bukittinggi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Menelusuri Jejak Satu Abad Jam Gadang, Sang Penjaga Waktu dari Bukittinggi Ilustrasi(Antara)

BERDIRI kokoh di jantung Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Jam Gadang bukan sekadar menara penunjuk waktu. Memasuki usianya nan telah melampaui satu abad, monumen ini menjadi saksi bisu transformasi sejarah Indonesia, mulai dari era kolonial Hindia Belanda, pendudukan Jepang, hingga masa kemerdekaan.

Asal-Usul dan Pembangunan

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Rajo Mangkuto dan Sutan Gigi Ameh. Pembangunan ini merupakan bingkisan dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota) Fort de Kock (sekarang Bukittinggi) pada masa itu, Rookmaaker. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh putra pertama Rookmaaker nan saat itu tetap berumur empat tahun.

Menara ini mempunyai tinggi sekitar 26 meter dengan dasar berukuran 13 x 4 meter. Mesin jam nan digunakan adalah mesin langka buatan Jerman, Vortmann Relojeros, nan konon hanya diproduksi dua unit di dunia; satu untuk Jam Gadang dan satu lagi untuk Big Ben di London.

Transformasi Atap: Simbol Perubahan Zaman

Salah satu kebenaran sejarah nan paling menarik dari Jam Gadang adalah perubahan corak atapnya nan mengikuti dinamika politik di Indonesia:

  • Era Belanda: Pada awal pembangunannya, genting Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di puncaknya, menghadap ke arah timur.
  • Era Jepang: Saat pendudukan Jepang (1942-1945), corak genting diubah menyerupai kuil Shinto alias style arsitektur Jepang.
  • Era Kemerdekaan: Setelah Indonesia merdeka, corak genting diubah menjadi corak Gonjong, karakter unik rumah budaya Minangkabau (Rumah Gadang), nan memperkuat hingga saat ini.

Fakta Unik Angka IIII: Jika Anda memperhatikan nomor Romawi pada dial jam, nomor empat tidak ditulis dengan simbol "IV", melainkan "IIII". Hingga kini, perihal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi visitor dan sering dikaitkan dengan beragam legenda lokal maupun argumen teknis estetika pada masa itu.

Ikon Wisata dan Cagar Budaya

Kini, setelah satu abad berdiri, Jam Gadang telah ditetapkan sebagai gedung cagar budaya. Kawasan di sekitarnya telah direvitalisasi menjadi taman terbuka hijau nan menjadi pusat aktivitas masyarakat dan destinasi utama visitor mancanegara. Meski telah berumur 100 tahun lebih, dentang Jam Gadang tetap setia menemani keseharian penduduk Bukittinggi, membuktikan ketangguhan arsitektur dan nilai sejarah nan tak lekang oleh waktu.

Keberadaan Jam Gadang adalah pengingat bahwa sejarah tidak hanya tertulis dalam buku, tetapi juga terpahat nyata dalam struktur gedung nan terus berdiri tegak melintasi zaman. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia