Kisah Direktur RS Gaza yang Ditahan Israel 500 Hari tanpa Dakwaan

Sedang Trending 4 jam yang lalu
Kisah Direktur RS Gaza nan Ditahan Israel 500 Hari tanpa Dakwaan Dr Hussam Abu Safiya.(Al Jazeera)

SATU foto nan tersebar luas di media sosial sempat menarik perhatian jutaan pasang mata: seorang master Palestina di Gaza utara melangkah dengan tenang menuju tank Pasukan Pertahanan Israel (IDF), seolah tidak gentar dengan reruntuhan gedung nan hancur di sekelilingnya. Dokter tersebut adalah Dr. Hussam Abu Safiya, Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan.

Kini, Abu Safiya ditahan oleh otoritas Israel selama lebih dari 500 hari tanpa adanya dakwaan resmi maupun proses peradilan. Kasusnya menjadi simbol tantangan berat nan dihadapi oleh para tenaga medis di area bentrok Gaza.

Penahanan tanpa Dakwaan dan Kondisi Kesehatan

Abu Safiya ditangkap pada 27 Desember 2024. Menurut laporan dari Physicians for Human Rights Israel (PHRI), keberadaannya sempat tidak diketahui selama 10 hari sebelum akhirnya dikonfirmasi berada di akomodasi penahanan Israel. Sejak saat itu, dia dipindahkan ke beberapa penjara, termasuk Sde Teiman, Ofer, Nafha, hingga Ramon, tempat dia dilaporkan berada dalam sel isolasi.

Kondisi bentuk sang master dilaporkan menurun drastis. Ia kehilangan berat badan hingga 20 kilogram dan menderita penyakit kulit (scabies). Selain itu, dia sempat kesulitan mendapatkan obat hipertensi selama dua bulan pertama penahanannya. Pihak family juga menyebut bahwa kacamata miliknya disita, nan menyebabkan gangguan penglihatan serius.

Klaim IDF vs Bantahan Keluarga:

IDF menuduh Abu Safiya terlibat dalam aktivitas terorisme dan memegang kedudukan di organisasi Hamas. Namun, Abu Safiya, keluarga, dan para pendukungnya membantah keras tuduhan tersebut, menegaskan bahwa dia hanyalah seorang master anak nan menjalankan tugas kemanusiaan.

Tragedi Keluarga di Tengah Perang

Sebelum penangkapannya, Abu Safiya mengalami tragedi pribadi nan mendalam. Pada Oktober 2024, putranya nan berumur 15 tahun, Ibrahim, tewas akibat serangan pesawat tak berawak (drone) Israel di pintu masuk RS Kamal Adwan. Abu Safiya sendiri sempat terluka akibat serpihan peluru dalam serangan udara di kantornya pada November 2024, tetapi ia tetap memilih terus merawat pasien.

Putranya nan lain, Elyas Abu Safiya, menggambarkan ayahnya sebagai sosok wartawan warga yang merasa krusial untuk menyuarakan kebenaran tentang kondisi rumah sakit nan kolaps kepada bumi internasional melalui media sosial.

Upaya Hukum nan Kandas

Pada Juni 2026, Abu Safiya muncul melalui sambungan video dalam persidangan di Mahkamah Agung Israel untuk mengusulkan banding atas penahanannya. Dalam penampilan publik pertamanya sejak Februari 2026 tersebut, dia terlihat jauh lebih kurus dan tangan terborgol.

Melalui pengacaranya, Nasser Odeh, Abu Safiya menyampaikan pesan, "Saya adalah seorang master anak, memberikan perawatan medis kepada nan sakit dan terluka. Penahanan saya tidak setara dan sewenang-wenang." Namun, Mahkamah Agung Israel menolak banding tersebut dan tetap melanjutkan penahanannya.

Hingga saat ini, organisasi kewenangan asasi manusia terus mendesak pembebasan segera bagi Abu Safiya dan setidaknya 14 tenaga kesehatan Palestina lain masih ditahan di Israel tanpa proses norma nan transparan. (ABC/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia