Menabung Sejak 1980, Sopir Truk Gabah Asal Sidrap Berangkat Haji

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Makassar, CNN Indonesia --

Jamaah haji asal Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel), Ladalle Abdullah (61) akhirnya berangkat ke Mekah untuk menunaikan rukun Islam kelima setelah menabung dari hasil kerjanya sebagai pengemudi truk gabah selama 46 tahun.

Ladalle berangkat ke Arah Saudi tergabung dengan golongan terbang (kloter) dua Embarkasi Makassar.

Kepada wartawan, Ladalle mengaku upah sebagai pengemudi truk gabah di Kabupaten Sidrap tidak terbilang besar. Namun dia mengaku konsisten menabung sejak tahun 1980 dengan tekad bulat untuk berangkat haji.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya menabung sejak tahun 1980," kata Ladalle, Rabu (22/4).

Setelah merasa duit tabungan cukup untuk uang muka haji, dia mendaftarkan diri untuk mendapatkan antrean haji pada April 2011 lalu.

"Saya kumpulkan hasil penghasilan seribu, dua ribu rupiah. Waktu itu penghasilan saya sedikit tapi terus dikumpulkan untuk naik haji," ungkapnya

Selama 15 tahun sejak mendaftar, dia akhirnya resmi dipanggil untuk menunaikan ibadah Haji sendiri tanpa ditemani keluarga.

"Saya berangkat sendirian. (Istri) sudah naik, tinggal saya sendiri," katanya.

Sebelumnya, jemaah calon haji Kloter 1 di Asrama Haji Medan, Asniah Daulay punya cerita nan sama. Usianya telah 82 tahun, menjadikannya jemaah tertua nan berangkat pada gelombang pertama menuju Madinah tahun ini.

Sehari-hari, dia bekerja sebagai petani di kebun pisang di area Kebun Lada, Kota Binjai. Dari hasil kebun itulah, Asniah menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya. Butuh waktu 19 tahun hingga tabungannya cukup untuk mendaftar haji.

"Saya menabung selama 19 tahun dari hasil kebun pisang. Saya sisihkan sedikit-sedikit, nan krusial jangan pernah putus niat. Alhamdulillah saya bisa berangkat tahun ini," ujar Asniah pelan saat ditemui di gedung penerimaan jemaah, Selasa (21/4).

Perjalanan itu belum selesai saat dia sukses mendaftar. Seperti jutaan calon jemaah lainnya di Indonesia, Asniah kudu menunggu giliran. Sembilan tahun lamanya dia menanti kepastian keberangkatan. Penantian panjang nan akhirnya terjawab di tahun ini.

"Setelah mendaftar, saya kudu bersabar melewati masa tunggu selama 9 tahun. Saya sempat kepikiran apa tetap sempat berangkat ya. Usia makin tua, tenaga makin berkurang. Tapi saya selalu berdoa, 'Ya Allah, panggil saya sebelum saya tidak kuat lagi," ucap Asniah terbata bata

(mir/dal)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional