Mekanisasi Emosi dan Overeksploitasi Kelas Pekerja

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Seorang staf kasir kudu berperilaku ramah terhadap pengguna sesuai SOP toko. (Foto: Pexel.com)

Pernahkah pembaca sekalian bertanya-tanya ketika keluar dari minimarket, “mengapa staf kasir begitu terpaku atas kata-kata nan sama dan repetitif?”. Tidak jauh dari, “Selamat datang di Minimarket A”, “Punya kartu membernya?”, “Selamat berbelanja kembali!”. Seorang pengajar sosiologi Universitas Udayana, Wahyu Budi Nugoroho, membagikan pengalamannya ketika ditanya mengenai kepemilikan kartu member oleh staf kasir minimarket. Namun, ketika Wahyu kembali lantaran ada beberapa produk nan lupa dibeli, dirinya ditanyakan perihal nan serupa. Padahal jelas-jelas, sepersekian detik lampau Wahyu mengatakan tidak mempunyai dan tidak berkeinginan untuk daftar menjadi member.

Barang tentu pembaca sekalian sempat berpikir setelah mengalami hubungan tersebut sebagai percakapan dengan robot alias Artificial Intelligence (AI). Padahal hubungan demikian sudah terjadi jauh sebelum AI marak dikonsumsi di tahun-tahun belakangan ini. Jelas bahwa apa nan dilakukan oleh staf kasir adalah praktik Standar Operasional Prosedur (SOP) nan ditetapkan oleh korporasi minimarket. Namun, masalahnya justru terletak dititik ini. Pekerja dipaksa untuk mematuhi SOP demi keberlangsungan transaksi ekonomi antara pengguna dan minimarket.

Wahyu dalam artikelnya nan berjudul, “Manusia Bukan Manusia”, apalagi menyebut praktik ini sebagai corak pemerkosaan pekerja demi menciptakan afeksi artifisial terhadap pelanggan. Penulis pribadi lebih suka menggunakan terminologi mekanisasi emosi nan dihasilkan dari praktik overeksploitasi kapitalisme lanjutan.

Kita tidak bakal pernah tahu emosi hati sebenarnya dari sang staf kasir. Boleh jadi dia mengalami pengalaman tidak mengenakan seperti dimarahi habis-habisan oleh pemimpin alias masalah individual lain seperti putus cinta dan ketidakramahan dalam keluarga. Namun, SOP memaksa sang staf untuk terus tersenyum dan berperilaku ramah, menunjukkan emosi kaya afeksi demi kepuasan pelanggan.

Di tengah-tengah proses ini, sang pemimpin boleh jadi menikmati penghasilan nan dirauk dari proses pemanfaatan terhadap emosi staf kasir. Keadaan ini memaksa kelas pekerja sebagai perseorangan kehilangan spontanitas dan sisi emosionalnya. Di sisi lain, praktik tersebut menciptakan relasi sosial sebagai simulasi semata dan memaksa keramahan sebagai performa maksimal.

Jika pembaca sekalian tidak relate dengan staf kasir sebagai contoh kasus, maka sejatinya mekanisasi emosi juga terwujud di setiap jenis pekerjaan pada era postmodern saat ini. Sebut saja driver ojek online nan kudu terus menampilkan afeksi terbaiknya demi mendapat rating nan tinggi.

Di restoran, pelayan kudu tetap menjaga kerapihan dan tampil ramah nan sopan—bahkan beberapa industri F&B mewajibkan salam tertentu nan diucapkan secara template dan berulang. Di bumi korporat alias perkantoran juga bertindak demikian. Lho, bukankah mereka tidak selalu berhadapan dengan client? Ya, memang, tapi mereka juga kudu menjaga emosi mereka terhadap atasan.

Ideologi bapakisme nan mendewakan pemimpin ini mengharuskan pekerja untuk terus bertindak ramah dan mereduksi keluhan. Posisi HR di kantor-kantor saja kerap menjadi boomerang bagi pekerja nan sedang tertekan dan butuh pendampingan menjadi wahana panggilan oleh atasan. Dunia korporasi menyokong penuh buahpikiran good vibes only dan work hard play hard nan sekali lagi menerapkan mekanisasi emosi pekerja.

Spat-Kapitalismus

Ilustrasi liquidity finance. (Foto: Pexel.com)

Setelah perang dingin berhujung pada 1991 dan diterbitkannya The End of History karya Francis Fukuyama 1 tahun setelahnya, kapitalisme menjadi determinasi ekonomi nan dicontoh oleh bumi global. Komunisme dianggap kandas dan Soviet membuktikannya. Hal ini semakin diperkuat dengan doktrin Reaganomics dan Margaret Thatcher sejak 1980-an nan menyatakan tidak ada pilihan lain selain mengangkat kapitalisme dan neo-liberalisme. Momen ini menandai bangkitnya spat-kapitalismus alias kapitalisme lanjutan.

Spat-kapitalismus berakar dari pemikiran filsuf aliran Frankfurt School, Herbert Marcuse. Gaya dari kapitalisme lanjut ini menegaskan setidaknya 3 hal; desublimasi represi, pendekatan 3F (Food, Fashion, Fun), dan ilusi kesejahteraan. Poin ketiga dari pendapat tersebut menjadi perihal nan dapat disorot berangkaian dengan overeksploitasi dan mekanisasi emosi. Kapitalisme direvisi agar tragedi revolusi industri di akhir abad 19 bisa diperbaiki.

Namun, alih-alih menciptakan kapitalisme progresif, korporat besar menciptakan ilusi nan seakan membawa kesejahteraan, namun pada dasarnya sama-sama mengeksploitasi. Mekanisasi emosi adalah salah satu contohnya, di mana pekerja diperkosa secara emosional dan dipaksa menampilkan afeksi artifisial dengan mengorbankan emosi nan sebenarnya.

Keadaan di mana pekerja dieksploitasi secara terselubung ini menimbulkan emosi alienasi alias keterasingan. Jauh sebelum era spat-kapitalismus dimulai, Karl Marx, seorang filsuf ekonomi, menyebut bahwa praktik kapitalisme secara esensial menciptakan alienasi. Jika di era Marx dulu, tepatnya pada abad 19, kapitalisme mengasingkan pekerja dari produk nan diciptakannya, maka perihal serupa juga turut terjadi bagi pekerja kontemporer.

Bahkan jauh lebih fatal lantaran keterasingan itu mereduksi solidaritas pekerja dalam berserikat. Masalah alienasi hari ini membikin pekerja terasing dari kemanusiaannya. Ketika staf kasir kudu terus tersenyum, alias seorang keryawan nan kudu menghamba terhadap atasannya demi bingkisan tambahan. Hal-hal ini menjauhkan pekerja dari makna kebahagiaan sejati nan sudah dirumuskan oleh filsuf helenistik Yunani ribuan tahun silam. Mudahnya, gimana pekerja bisa senang jika emosi saja kudu diatur sedemikian rupa demi kepentingan korporasi.

Jeruk Mekanis

Adegan di movie A Clockwork Orange, nan mengisahkan Alex DeLarge, pelaku kekerasan nan dipaksa bertaubat dengan operasi Ludovico dan memaksanya kehilangan kehendak bebasnya. (Foto: GettyImages.com)

Kapitalisme lanjut tidak puas hanya dengan mengatur apa nan pekerja kerjakan, tapi gimana mereka kudu merasakan. Pekerja tidak ada bedanya dengan jeruk mekanis, sebuah metafora nan diperkenalkan Anthony Burgess dalam novelnya A Clockwork Orange, dan kemudian dipopulerkan lewat penyesuaian filmnya oleh Stanley Kubrick. Novel ini sendiri mengusung tema perenggutan kehendak bebas nan memaksa materi dan pikiran bekerja tidak seimbang. Seperti halnya pekerja di era kapitalisme lanjutan di mana kehendak bebasnya direbut dan diprogram seperti halnya jeruk mekanis. Coba perhatikan penjelasan para teoritikus di bawah:

Arlie Hochschild dalam The Managed Heart menjelaskan konsep emotional labor. Teori ini menjelaskan manajemen emosi dan lekuk tubuh demi proses mendapatkan gaji. Faktual, perihal ini memaksa pekerja untuk memanipulasi emosi mereka demi kepentingan korporasi. Batas antara ramah dan mekanisasi emosi lantas kabur, lantaran sekarang emosi hanya sebatas program demi pemenuhan kebutuhan korporasi dan pelanggan. Emotional labor juga menjelaskan praktik psikologis pekerja untuk berakting memanipulasi emosinya.

Mulai dari tahap paling awal adalah surface acting nan memalsukan emosi tanpa merubah perasaan, tahap deep acting nan memaksa perubahan emosi secara batin, dan feeling rules di mana pekerja sudah dapat berperilaku secara situasional dalam kondisi apapun. Jelas tangga akting ini adalah manifestasi overeksploitasi di mana manusia tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Bahkan ini bukan sebuah teater tragedi, namun hidup itu sendiri adalah corak tragedi.

Dalam konteks postmodern, Jean Baudrillard menggagas teori simulacra. Simulacra adalah pendapat nan menjelaskan representasi, citra, dan simbol media sebagai bentuk realitas itu sendiri, nan di mana perihal tersebut adalah keliru. Teori ini menunjukkan bahwa manusia postmodern kian hidup di lingkungan hiperrealitas, di mana masyarakat tidak dapat mempercayai mana nan asli, mana nan simbol, dan kerap menjadikan simbol sebagai realitas absolut. Simulacra sering dikaitkan terhadap kritik media sosial, namun penulis hendak menggunakannya sebagai kritik mekanisasi emosi kelas pekerja. Menurut Baudrillard, masyarakat postmodern hidup dalam simulasi nan diproduksi simbol. Keramahan di minimarket adalah salah satu contohnya. Kalimat template dengan emosi nan ramah di setiap kali kita berinteraksi dengan staf kasir bukan lagi sebuah realitas.

Namun, perihal ini dipercaya sebagai realitas lantaran gambaran nan dipaksakan oleh korporasi kepada staf kasir. Keramahan bukan lagi suatu perihal nan tulus, tapi hiperrealitas seperti Non-Playable Character (NPC) di video game nan terus-terusan berperilaku dan mengucapkan kalimat template. Masyarakat postmodern selalu mengalami hubungan tiruan seperti ini nan lama kelamaan dianggap normal dan menjadi realitas.

Di sisi lain, relasi antara pemimpin dan pekerja dalam penegasan SOP dapat ditinjau dalam konsep disiplin dan balasan oleh Michel Foucault. Gagasan Foucault menjelaskan gimana kekuasaan modern—seperti kapitalisme lanjutan—bertindak dengan pengaturan perilaku, bukan siksaan bentuk seperti di era Marx dulu. Pemikiran ini mengupas mengenai gimana lembaga menciptakan kepatuhan kelas pekerja dan menormalisasi standar-standar tertentu, termasuk SOP.

Dari sini bentuk busuk kapitalisme modern terungkap, bahwa sejatinya mereka tidak pernah betul-betul berakhir mengeksploitasi. Mewujudkan pekerja alim adalah manifestasi dari disiplin dan hukuman. Perserikatan dianggap pemberontakan terhadap pemimpin nan menggaji. Padahal pemimpin juga tidak mendapat keuntungan jika pekerja berakhir bekerja. Maka materi kelas pekerja dijadikan perseorangan nan alim dan hidup dalam ilusi kesejahteraan. Mekanisasi emosi-pun menjadi perihal nan dianggap lumrah demi menerapkan SOP, meskipun mengorbankan kemanusiaan para pekerja dari spontanitas alamiahnya.

Contoh-contoh pemikiran di atas menampilkan praktik teoritis nan dapat pembaca lihat dalam kehidupan bekerja sehari-hari. Bahkan dapat menjadi refleksi bagi pembaca sekalian nan bekerja di bawah tekanan luar biasa sehingga teralienasi dari kemanusiaan. Hal-hal nan telah kita pahami di atas semakin menegaskan relevansi posisi pekerja sebagai jeruk mekanis.

Kita hanya datang untuk menjadi program mekanika demi memenuhi kepuasan korporasi. Hal ini tidak hanya menghilangkan kemanusiaan dari diri kita, tapi mendehumanisasi perseorangan menjadi sebuah aset semata. Kapitalisme nan progresif, seperti nan diusulkan Joseph E. Stiglitz, adalah corak kapitalisme non-eksploitatif dan mendukung penuh kewenangan kemanusiaan pekerjanya, termasuk dalam mengontrol emosi secara bebas.

Refleksi

Masalah terbesar kapitalisme modern tidak hanya ilusi kesejahteraan nan memaksa pekerja untuk bekerja lebih keras demi kebahagiaan semu, tapi juga kehilangan keaslian dari masing-masing individu, menjadi jeruk mekanis bagi orang lain, dan pudarnya kehendak bebas. Pertanyaan refleksi jadi seperti ini; Apa kita betul-betul tetap menjadi manusia jika emosi saja sudah ditentukan oleh korporasi?

Tentunya perihal ini dapat diperbaiki dari proses Top-Down, ialah keputusan bijak dari korporasi dan izin pemerintah dalam mengelola sumber daya manusia nan humanis. Reformasi ekonomi didahului oleh reformasi politik. Maka sudah jelas perihal nan urgent untuk dibenahi adalah kebijakan ketenagakerjaan. Pemikiran para teoritikus nan penulis hadirkan tidak hanya menjadi representasi semu atas overeksploitasi spat-kapitalismus, tapi juga refleksi demi memahami secara dasar atas apa nan terjadi di lingkungan kerja hari ini.

Adapun, penulis sangat setuju dengan pendapat kapitalisme progresif Stiglitz nan mengutamakan kesejahteraan masyarakat di atas kekuasaan dan profit. Maka pemangku kebijakan kita juga patut mempertimbangkan pendapat itu. Jika tidak, maka masalah-masalah baru bakal semakin bermunculan dan tidak hanya mekanisasi emosi, melainkan krisis rumah, biaya pensiun, dan transportasi nan tetap menjadi satu dari sekian banyak masalah kapitalisme lanjutan di hari ini.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan