Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menjelaskan panitia menantang perupa untuk menggali, menemukan, memilih perspektif pandang, langkah pandang, dan langkah ungkap dalam melihat, memahami, meresepsi sosok paling ikonik dalam sejarah Indonesia ialah Bung Karno.
Mengolah dan mewujudkan tema 'Mata Hati Soekarno' sesungguhnya tidak mudah lantaran para perupa alias para seniman alias para pelukis ini sebagian besar dari generasi 1990-an.
Melalui lukisan, karya grafis, dan gambar, mereka berupaya membaca kembali perjalanan hidup, gagasan, serta jejak kebangsaan nan diwariskan Bung Karno kepada bangsa Indonesia.
Menurut Suwarno, Bung Karno merupakan figur nan tidak pernah lenyap untuk dibaca dan dimaknai ulang.
"Bung Karno adalah air, tanah, angin, dan api menghidupi, menumbuhkan, menebarkan, dan menyalakan angan dari waktu ke waktu sampai hari ini. Lebih dari separuh abad sepeninggal Bung Karno, dia adalah inspirasi nan tak pernah redup," lanjutnya.
Karena itu, pameran ini tidak sekadar menghadirkan karya seni, tetapi juga membuka ruang perbincangan publik mengenai relevansi pemikiran dan nilai-nilai nan diwariskan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia tersebut.
"Merayakan Bung Karno dengan seni lukis sungguh bukan kebetulan. Ini seremoni nan tepat, lantaran teman-teman di beragam bagian negara mengenal Indonesia, mengenal Bung Karno dari dekat, salah satunya adalah dari lima jilid kitab nan diinisiasi beliau, nan diterbitkan dan belum pernah ada tandingannya sampai hari ini," katanya.
Pameran ini menjadi salah satu rangkaian aktivitas peringatan 125 tahun kelahiran Bung Karno nan digelar di Yogyakarta.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·