Jakarta, CNBC Indonesia - Kebakaran rimba nan terjadi di beberapa titik di Indonesia jadi sorotan media asing. Salah satunya dalam tulisan ABC berjudul "Indonesia battling wildfires as smoke haze spreads as far as the Philippines" nan dirilis Jumat (4/9/2026).
Artikel itu mengutip pemerintah Indonesia nan mengatakan konsentrasi pemadaman berada di enam provinsi Sumatera dan Kalimantan. Sementara titik api juga dilaporkan terdapat di Jawa, Sulawesi dan Papua Barat.
Kebakaran rimba itu tak hanya berakibat di dalam negeri. Sejumlah negara tetangga juga merasakan kabut asap, dari Singapura, Malaysia, Brunei dan Fillipina.
ABC juga menampilkan peta sebaran kabut asap akibat kebakaran hutan. Peta itu membagi dampaknya menjadi tiga, ialah tidak sehat untuk golongan sensitif, tidak sehat dan sangat tidak sehat.
Untuk beberapa negara tetangga dampaknya masuk dalam golongan tidak sehat untuk golongan sensitif.
Salah satu wilayah nan terdampak adalah Sarawak, Malaysia, wilayah nan berbatasan dengan Kalimantan mencatat tingkat kualitas udara tidak sehat. Kementerian Kesehatan Malaysia mengungkapkan lonjakan kasus asma mencapai 259% pada minggu terakhir bulan Agustus.
Laporan dari ASMPH Center for Research and Innovation (ACRI) dan jaringan Breathe Metro Manila (BMM) menyebut kualitas udara Manila akibat kebakaran rimba di Indonesia menjadi 'sangat tidak sehat' selama 30 Agustus hingga 2 September 2026. Tingkat polusi udara juga dilaporkan lebih dari empat kali lipat dari nan direkomendasikan WHO.
Kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di area Gunung Ungup-Ungup, Jawa Timur, terpantau meluas hingga memasuki wilayah Kabupaten Bondowoso pada Jumat (4/9/2026). (Dok. BNPB) Foto: Kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di area Gunung Ungup-Ungup, Jawa Timur, terpantau meluas hingga memasuki wilayah Kabupaten Bondowoso pada Jumat (4/9/2026). (Dok. BNPB)
Penyebab Kebakaran Hutan
ABC juga mengutip info badan pemantauan kebakaran Kementerian Kehutanan Indonesia. Disebutkan kebakaran rimba menghanguskan lebih dari 202 ribu hektar sejak awal tahun hingga Juni alias nyaris tiga kali luas Singapura.
Bulan Juli saja tercatat nyaris 95 ribu lahan terbakar, termasuk lebih dari 73.300 hektar di Sumatera dan Kalimantan. Wilayah Kalimantan Barat disebut jadi nan paling terdampak dalam kejadian ini.
Sementara itu mengutip Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino membikin kekeringan. Namun aktivitas manusia juga dibutuhkan untuk menjadi sumber pemicu kekbaran.
Kementerian Kehutanan Indonesia disebut telah mengidentifikasi dugaan penyebabnya. Misalnya beberapa kasus tanah dijual secara terlarangan dan dibakar menjadi perkebunan kelapa sawit, serta kasus kebakaran untuk membersihkan lahan untuk pembangunan jalan nan berizin.
(npb/wur)
[Gambas:Video CNBC]
46 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·