Kilas Balik 4 Orang Selamat Kala Pesawat Jatuh Tewaskan 520 orang

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Jakarta -

Tragedi kecelakaan Japan Air Lines Penerbangan 123 (JAL 123) menjadi salah satu kecelakaan nan dipicu kelalaian. Kecelakaan ini dipicu masalah perbaikan nan tak dituntaskan.

Dikutip dari laporan investigasi resmi, kecelakaan terjadi pada tanggal 12 Agustus 1985 di Prefektur Gunma, Jepang.

Kecelakaan bermulai ketika pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Tokyo (Haneda) menuju Osaka. Pesawat terbang ke ketinggian 24.000 kaki. Namun, kemudian sekat tekanan belakang pecah akibat perbedaan tekanan kabin. Terjadi penurunan tekanan udara drastis dan terdengar bunyi ledakan keras di kabin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini diikuti dengan sistem autopilot nan meninggal secara otomatis dan sirine ketinggian kabin berbunyi. Kemudi pesawat tidak lagi merespons petunjuk pilot.

Pilot melaporkan pesawat kehilangan kendali dan meminta izin kembali ke Haneda. Pesawat mengalami guncangan tidak stabil berupa aktivitas naik-turun dan oleng.

Setelah itu, pesawat jatuh menabrak lereng gunung dalam posisi terbalik (upside down) dengan bagian depan pesawat mengarah ke bawah.

Korban Jiwa Capai 500 Orang Lebih

Kecelakaan ini merupakan salah satu musibah penerbangan tunggal paling mematikan dalam sejarah.
Sebanyak 520 orang dinyatakan meninggal bumi (seluruh 15 kru pesawat dan 505 penumpang).

Namun, ada juga nan selamat. Ada 4 orang penumpang nan selamat. Keempat korban selamat adalah wanita nan duduk di baris bangku belakang nan kebetulan mendapat perlindungan struktur ekor pesawat nan tidak hancur lebur.

Karena Perbaikan Tak Tuntas

Penyebab utama kecelakaan ini adalah pecahnya sekat tekanan belakang pesawat nan tiba-tiba pecah. Pecahnya sekat ini memicu kerusakan berantai berupa runtuhnya sebagian ekor pesawat, hilangnya sayap pesawat.

Kerusakan fatal ini berakar dari perbaikan struktur nan tidak sempurna pada tahun 1978 setelah pesawat mengalami kecelakaan di Bandara Osaka.

Perbaikan tak tuntas ini menurunkan kekuatan sambungan sekat tersebut hingga menjadi 70% dari kekuatan aslinya dan menyebabkan akumulasi retakan pecah.

(rdp/imk)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News