94% Pekerja Indonesia Sudah Pakai AI Setiap Hari, tapi Laptopnya Belum Siap?

Sedang Trending 5 jam yang lalu

loading...

NPU bukan sekadar chip, ini perbedaan antara laptop nan berpikir dan nan sekadar berputar. Foto: HP Indonesia

JAKARTA - Gartner sudah menghitungnya. Tahun 2026 ini, 55 persen dari seluruh laptop nan dijual di bumi sudah ber-AI. Setara 143 juta unit. Bukan tren pinggiran. Bukan sekadar label marketing.

Di 2024, nomor itu baru 17 persen. Di 2025, naik jadi 31 persen. Kini nyaris melampaui separuh pasar global.

Dan Intel sudah menyebut nomor nan lebih jauh: 80 persen laptop di bumi bakal ber-AI pada 2028.

Indonesia tidak bisa berpura-pura ini bukan soal kita. HP Indonesia menjawab momentum itu pada 1 September 2026.

Mereka memperkenalkan kembali jejeran HP OmniBook: portofolio AI PC konsumen nan ditenagai Intel Core Ultra Series 3. Lima lini. Lima segmen pasar. Harga mulai Rp10.899.000.

Tapi sebelum bicara produknya, krusial untuk memahami dulu: kenapa laptop AI itu matter?

Tiga huruf nan mengubah segalanya: NPU.

Neural Processing Unit. Chip unik nan memproses tugas-tugas kepintaran buatan langsung di perangkat, tanpa kudu kirim info ke server cloud. Tanpa kudu berjuntai hubungan internet.

Di Indonesia, ini krusial sekali. Koneksi internet di luar Jawa tidak selalu stabil. Kalau pemrosesan AI kudu lewat cloud setiap saat, produktivitas langsung berjuntai pada kecepatan sinyal.

Dengan NPU, transkripsi bunyi otomatis melangkah real-time. Noise di video call dihapus tanpa jeda. Auto framing saat presentasi aktif tanpa menyantap daya baterai besar. Semua diproses lokal. Cepat. Mandiri.

Itulah bedanya laptop AI dengan laptop biasa nan hanya memasang label 'AI-ready'.

PwC Indonesia punya angkanya. Survei mereka terhadap 812 responden dari Indonesia, bagian dari 49.843 pekerja di 48 negara, menunjukkan sesuatu nan menarik.

Sembilan puluh enam persen pengguna AI harian di Indonesia mengaku produktivitas mereka meningkat. Angka itu melampaui rata-rata dunia nan 92 persen.

Lebih jauh: 82 persen merasa lebih kondusif di posisi kerja. Dan 72 persen melaporkan kenaikan penghasilan.

Itu info pengguna nan aktif dan konsisten memakai AI. Artinya: perangkat nan bisa menjalankan AI dengan baik bukan lagi kemewahan.

HP Work Relationship Index 2025 mempertegas konteksnya di Indonesia.

Tujuh puluh persen Gen Z dan 68 persen Milenial di negeri ini punya side hustle di samping pekerjaan utama. Bayangkan seorang desainer skematis di Surabaya: pagi hari rapat Zoom dengan pengguna korporat, siang edit konten media sosial untuk UMKM, malam proses foto produk untuk toko online-nya sendiri.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews